Kamis, 16 April 2009

[Cerdas-Terampil-Taqwa]

La Yukalifullahu Nafsan illa Wus’aha …


Kalimat itu barusan kami perbincangkan. Saya dan teman akrab saya, seorang penggiat IT juga, seringkali merasa “kering” dalam hati dan kadang merasa bahwa banyak sekali “threat” yang harus kita lewati. Ntah kenapa, teman saya kemudian iseng buka-buka Qur’an dan membaca beberapa ayat terakhir dari surah Al Baqoroh. Ada beberapa ayat yang bercerita tentang ujian dan batas-batas kesanggupan manusia untuk melewatinya. Ayat tersebut sebenarnya banyak dibaca di MTQ, tadarusan keliling, atau bahkan menjadi selipan materi-materi ceramah khatib jum’at. Namun, tiap-tiap ayat Alqur’an itu memiliki makna yang luas dan tak terduga. Kadang, satu ayat bisa memberikan kesan yang berbeda terhadap masing-masing manusia. Tergantung bagaimana mereka menyikapi dan menguji dirinya dengan petunjuk robbani itu.
Ayat yang menjadi judul di atas, bisa diartikan “Manusia tidak akan dibebani (atau diuji) kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Kalau dibalik pengertiannya, sebenarnya tiap-tiap manusia mampu melewati ujian hidup dengan berbagai macam cara dan kemampuan yang mereka miliki. Yang membedakan masing-masing dari mereka adalah, apa dasar yang mereka jadikan pegangan untuk melewati ujian tadi? Kafir atau tidak, Islam atau bukan, manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah, karena dengan masalah itulah mereka akan tumbuh secara fisik dan mental. Abu Jahal dan Umar bin Khatab adalah dua orang yang merasa bermasalah dengan kelahiran bayi perempuan dari istri mereka. Yang berbeda adalah, bagaimana mereka menyikapinya. Terkadang, menyikapi sesuatu dengan komitmen robbaniy mengandung konsekuensi yang cukup berat, dan dari sanalah surga dibayar. Menyikapi ujian hidup dengan membuka Qur’an adalah sesuatu yang mungkin tidak terlalu biasa bagi rekan saya, yang notabene bukan didikan pesantren atau penganut manhaj jama’ah tertentu. Tapi kemampuan menyarikan hikmah Qur’an itu bukan monopoli lulusan Al Azhar, meskipun dengan ilmu agama, jaminan seseorang untuk menelaah Qur’an dengan benar adalah sebuah keniscayaan. Masalahnya adalah membuktikan dan menerapkan Qur’an dalam hidup, sebagaimana para sahabat belajar menghafal ayat demi ayat. Karena hal itulah, para sahabat hafal Qur’an menjelang wafat mereka. Tidak instan, dalam waktu 2-3 tahun. Ya, karena mereka praktikum dan kuliah sekaligus.
Belajar menghadapi hidup dengan Qur’an sebagai pegangan. Kelihatannya sesuatu yang sudah berkali-kali kita dengarkan. Tapi, coba deh kita baca lagi ayat-ayat dan teguran lembut dari Allah SWT. Ternyata, kita bisa koq menghadapi ujian-ujian dari Allah SWT, asal kita percaya dan mem-faqir-kan diri di hadapan Allah. Barangkali, kita saja yang terlalu cepat putus asa, atau terlalu cepat berpikir negatif. Padahal, kita belum melakukan apapun. Ya, masalah ekonomi, pekerjaan, atau biaya kuliah adalah masalah yang biasa kami ceritakan sebagai bahan obrolan, di tengah semakin susahnya hidup di Indonesia. Itulah yang membedakan kita dengan orang-orang lain. Seorang muslim seharusnya terus berkata di dalam hati, “Haram hukumnya putus asa…, dan berdosalah orang yang berputus asa dari nikmat Allah…”
NB : buat rekan-rekan yang masih belum menemukan “pijakan” yang pas paska kuliah, atau buat mereka yang masih harus berjuang untuk lulus kuliah, ayo semangat kang, mbakyu … Eh, doakan juga kami ya, muga2 tetap istiqomah …. :)

Written by sunu wibirama

30 April 2008 pada 3:54 pm

Ditulis dalam qalbu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar