Kamis, 16 April 2009

[Cerdas-Terampil-Taqwa]

La Yukalifullahu Nafsan illa Wus’aha …


Kalimat itu barusan kami perbincangkan. Saya dan teman akrab saya, seorang penggiat IT juga, seringkali merasa “kering” dalam hati dan kadang merasa bahwa banyak sekali “threat” yang harus kita lewati. Ntah kenapa, teman saya kemudian iseng buka-buka Qur’an dan membaca beberapa ayat terakhir dari surah Al Baqoroh. Ada beberapa ayat yang bercerita tentang ujian dan batas-batas kesanggupan manusia untuk melewatinya. Ayat tersebut sebenarnya banyak dibaca di MTQ, tadarusan keliling, atau bahkan menjadi selipan materi-materi ceramah khatib jum’at. Namun, tiap-tiap ayat Alqur’an itu memiliki makna yang luas dan tak terduga. Kadang, satu ayat bisa memberikan kesan yang berbeda terhadap masing-masing manusia. Tergantung bagaimana mereka menyikapi dan menguji dirinya dengan petunjuk robbani itu.
Ayat yang menjadi judul di atas, bisa diartikan “Manusia tidak akan dibebani (atau diuji) kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Kalau dibalik pengertiannya, sebenarnya tiap-tiap manusia mampu melewati ujian hidup dengan berbagai macam cara dan kemampuan yang mereka miliki. Yang membedakan masing-masing dari mereka adalah, apa dasar yang mereka jadikan pegangan untuk melewati ujian tadi? Kafir atau tidak, Islam atau bukan, manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah, karena dengan masalah itulah mereka akan tumbuh secara fisik dan mental. Abu Jahal dan Umar bin Khatab adalah dua orang yang merasa bermasalah dengan kelahiran bayi perempuan dari istri mereka. Yang berbeda adalah, bagaimana mereka menyikapinya. Terkadang, menyikapi sesuatu dengan komitmen robbaniy mengandung konsekuensi yang cukup berat, dan dari sanalah surga dibayar. Menyikapi ujian hidup dengan membuka Qur’an adalah sesuatu yang mungkin tidak terlalu biasa bagi rekan saya, yang notabene bukan didikan pesantren atau penganut manhaj jama’ah tertentu. Tapi kemampuan menyarikan hikmah Qur’an itu bukan monopoli lulusan Al Azhar, meskipun dengan ilmu agama, jaminan seseorang untuk menelaah Qur’an dengan benar adalah sebuah keniscayaan. Masalahnya adalah membuktikan dan menerapkan Qur’an dalam hidup, sebagaimana para sahabat belajar menghafal ayat demi ayat. Karena hal itulah, para sahabat hafal Qur’an menjelang wafat mereka. Tidak instan, dalam waktu 2-3 tahun. Ya, karena mereka praktikum dan kuliah sekaligus.
Belajar menghadapi hidup dengan Qur’an sebagai pegangan. Kelihatannya sesuatu yang sudah berkali-kali kita dengarkan. Tapi, coba deh kita baca lagi ayat-ayat dan teguran lembut dari Allah SWT. Ternyata, kita bisa koq menghadapi ujian-ujian dari Allah SWT, asal kita percaya dan mem-faqir-kan diri di hadapan Allah. Barangkali, kita saja yang terlalu cepat putus asa, atau terlalu cepat berpikir negatif. Padahal, kita belum melakukan apapun. Ya, masalah ekonomi, pekerjaan, atau biaya kuliah adalah masalah yang biasa kami ceritakan sebagai bahan obrolan, di tengah semakin susahnya hidup di Indonesia. Itulah yang membedakan kita dengan orang-orang lain. Seorang muslim seharusnya terus berkata di dalam hati, “Haram hukumnya putus asa…, dan berdosalah orang yang berputus asa dari nikmat Allah…”
NB : buat rekan-rekan yang masih belum menemukan “pijakan” yang pas paska kuliah, atau buat mereka yang masih harus berjuang untuk lulus kuliah, ayo semangat kang, mbakyu … Eh, doakan juga kami ya, muga2 tetap istiqomah …. :)

Written by sunu wibirama

30 April 2008 pada 3:54 pm

Ditulis dalam qalbu

Kamis, 02 April 2009

Mengenal Pribadi Rasulullah (bag 2)

CAP KENABIAN RASULULLAH Shallallahu `Alaihi wa Sallam

1. Dari Jabir bin Samrah radhiyallahu `anhu berkata: Saya pernah melihat cap kenabian diantara kedua bahu Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam , (cap itu berbentuk) gondok merah seperti telur burung dara yang menyerupai warna jasadnya. (HR. Muslim)

2. Dari Abdullah bin Sarjas radhiyallahu `anhu berkata: Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, say (juga) telah menemuinya, makan makanannya, minum minumannya, dan saya pernah melihat cap kenabian di punuk pundaknya sebelah kiri, di atas cap kenabian tersebut terkumpul tahi lalat semisal kutil. (HR. Muslim)

3. Dari Al Ja`du bin Abdur Rahman berkata: Saya mendengar As Sa`ib bin Yasid berkata: Bibi saya pergi membawa saya ke Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam , kemudian berkata: Wahai Rasulullah , sesungguhnya anak keponakan saya ini kurang sehat. Maka beliau mengusap kepala saya dan mendoakan keberkahan buat saya. Lalu beliau berwudhu, dan saya meminum air wudhu beliau. Kemudian saya berdiri di belakang punggungnya. Saya melihat cap kenabian di antara kedua bahunya seperti telur burung puyuh. (Mutafaq `Alaih)

KEHARUMAN BAU RASULULLAH Shallallahu `Alaihi wa Sallam

1. Dari Anas radhiyallahu `anhu berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam mempunyai warna kulit yang bersih, keringatnya seperti mutiara, apabila berjalan beliau mendorongkan badannya ke depan. Belum pernah saya menyentuh sutra bergambar yang lebih lembut dari tangannya ras Shallallahu `Alaihi wa Sallam . Dan say belum pernah mencium minyak wangi dari Misk maupun Ambar yang lebih harum dari baunya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam . (Mutafaq `Alaih)

2. Dari Anas radhiyallahu `anhu berkata: Nabi pernah mengunjungi kami, kemudian beliau tidur siang sehingga berkeringat. Datanglah ibu saya dengan membawa sebuah botol. Kemudian beliau mengalirkan keringat beliau ke botol tersebut, sehingga Nabi terbangun dan bertanya: Wahai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan? Ibu saya menjawab: Keringatmu ini akan kami jadikan sebagai parfum. Karena dia merupakan parfum yang paling wangi. (HR. Muslim)

3. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dikenal dengan keharuman bau bila bersua. (Disahihkan oleh Al-Albani di Shahih Al Jami`)

4. Dari Anas radhiyallahu `anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam tidak pernah menolak minyak wangi. (HR. Bukhari)

5. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: Sebaik-baik minyak wangi adalah Misk. (HR. Muslim)

----------------

Dinukil dari: Mengenl Pribadi Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam , Penulis: Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Alih bahasa: Mukhlish Zuhdi. Penerbit Yayasan Al-Madinah, Shafar 1419 H, hal. 22-23


Majalah Baru
As Sunnah Edisi 08/VII/1424H/2003M - Merayakan Hari Raya Islam




copy © center Salafyoon.Net 2003

Keutamaan-Keutamaan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam



1. Allah Ta`ala berfirman:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pemberi khabar gembira dan peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan Izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (OS. Al Ahzab: 45-47)

2. Allah Ta`'ala berfirman:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seornag laki-laki di antara kamu. Tetapi dia adalah Rasulullah dan Penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Ahzab: 40)

3. Allah Ta`ala berfirman:

Tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya: 40)

4. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

Saya adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat, dan saya yang pertama kali akan mengetuk pintu surga. (HR. Muslim)

5. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

Saya yang pertama kali akan memberi syafa`at ke surga, belum pernah di benarkan salah seorang dari para Nabi seperti dibenarkannya saya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari para Nabi yang tidak dibenarkan umatnya kecuali hanya seorang saja (dari mereka).

6. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

Saya memohon kepada Allah tiga perkara. Dia mengabulkan dua di antaranya dan menolak yang lain. Saya memohon kepada-Nya agar umat saya tidak dibinasakan dengan paceklik, maka Allah mengabulkannya. Lalu saya memohon kepada-Nya agar umat saya tidak dibinasakan dengan tenggelam, maka Dia mengabulkannya. Dan saya memohon kepada-Nya agar tidak menjadikan bencana di antara mereka, maka Dia menolaknya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabada:

Saya memohon kepada Allah agar musuh tidak menguasai umatku, maka Dia mengabulkannya. (HR. At Tirmidzi & An Nasa`i, dishahihkan oleh Al Albani).

7. Berkata Anas bin Malik radhiallahu `anhu dalam hadits tentang Isra` Mi`raj, diantaranya: Dan kedua belah mata Nabi Muhammad Shallahu `Alaihi wa Sallam tidur, akan tetapi hatinya tidaklah tidur. (HR. Muslim)

8. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

Saya adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat, saya yang pertama kali dikeluarkan dari kubur, yang pertama kali memberi syafa`at dan yang pertama kali diberi hak untuk memberi syafa`at. (HR. Muslim)

9. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

Saya diberi keutamaan atas para nabi dngan enam perkara: Saya diberi Jawami`ul Kalim 1) saya ditolong dari ketakutan, dihalalkan bagi saya rampasan perang, bumi dijadikan untuk saya sebagai Masjid dan tempat yang suci, saya diutus kepada semua makhluk, dan saya sebagai penutup para nabi. (HR. Muslim)

10. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam:

Saya diiutus dari generasi terbaik anak Adam dari generasi-generasi, sampai saya berasal dari generasi yang saya berasal darinya. (HR. Bukhari)

11. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya perumpaan saya jika dibandingkan dengan para Nabi sebelum saya adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah gedung, dia memperbagus dan mempercantik gedung tersebut, kecuali tempat bata merah yang terletak di pojok bangunan. Manusia mengelilingi bangunan itu dan kagum daripadanya. Mereka berkata: Alangkah sempurnanya bila diletakkan bata merah ini. Beliau berkata: Akulah bata merah itu, dan saya adlah penutup para nabi.

12. Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya di sisi Allah, saya ditetapkan sebagai penutup para Nabi, dan bahwasanya Adam sungguh dilemparkan di muka bumi. Saya akan memberi tahu kalian tentang urusan saya yang pertama kali , yaitu: Dakwahnya Nabi Ibrahim, berita gembiranya Isa, dan mimpi Ibu saya yang dilihatnya ketika melahirkan saya , telah keluar darinya cahaya yang menerangi istana Syam. (Dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi, dan dishahihkan Al Albani di Misykah)

13. Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam ketika beliau berada di Gua Hira`. Dia berkata: Iqra` bismi Rabbikal ladzi khalaq (Al `Alaq:1). Maka pulanglah Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam dengan hati yang bergetar. Beliau menemui istrinya Khadijah binti Khuwailid dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Beliau berkata: Saya cemas, Khadijah menjawab: Sekali-kali tidak, Demi Allah, Dia tidak akan menghinakan kamu selama-lamanya. Karena kamu suka menyambung tali silaturrahmi, menanggung anak yatim, memberi pekerjaan kepada yang membutuhkan, memberi makan tamu, dan membantu wakil-wakil kebenaran. Kemudian Khadijah pergi bersama Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam ke rumah Waraqah bin Naufal. Berkata Khadijah: Wahai anak pamanku, dengarkan apa yang akan dikatakan oleh anak saudaramu ini!` Lalu Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam menceritakan apa yang dilihatnya. Waraqah berkata: Ini adalah Namus (Jibril) yang telah diturunkan Allah kepada Musa. Duhai kiranya aku masih bisa bertahan, kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, Rasulullah Shallahu `Alaihi wa Sallam berkata: Apakah mereka akan mengusir saya? Dia menjawab: Ya, tidaklah seseorang datang membawa sesuatu seperti yang kau bawa kecuali akan dimusuhi. Kalau saya masih bisa menjumpai hari-harimu itu maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang besar.(HR. Bukhai di Kitab Bad`ul Wahyi)

------------

catatan kaki:

1) Jawami`ul Kalim: Kata-kata yang ringkas tetapi mengandung makna yang luas.

Diketik ulang dari: Mengenal Kesempurnaan Rasul, Muhammad bin Jamil Zainu, Penerbit: Yayasan Al-Madinah, cetakan pertama: Juni 1999 M/ Shafar 1419 H, hal.17-22






copy © center Salafyoon.Net 2003

sejarah Nabi







Segala puji hanya untuk Allah yang telah mengutus Rasulullah sebagai Nabi dan Rasul yang diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam semesta dan sebagai hujjah atas sekalian manusia dan jin yang mereka telah ditugaskan untuk beribadah kepada Nya. Beliau membawa risalah Ilahi dan menunjukkan manusia kepada jalan kebahagian yang hakiki serta mengeluarkan mereka dari penyembahan kepada makhluq menuju penyembahan kepada Robbnya para makhluk.

Kemudian sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah dan para keluarga serta pengikut-pengikutnya yang setia,

Rasulullah sebagai sosok tauladan yang baik merupakan pribadi yang harus kita ketahui perjalanan hidupnya sejak beliau lahir sampai wafat nya, dan mengetahui sejarah beliau merupakan satu kewajiban yang dibebankan kepada umat ini, karena beliau adalah perantara dan penafsir Al Qur`an secara perkataan dan perbuatan, sehingga tidaklah mungkin kita dapat memahami ajaran agama kita tanpa mengetahui sejarah Rasulullah.

Oleh karena itu, kaum muslimin sejak masa-masa pertama perkembangan Islam telah sibuk mempelajari siroh Rasulullah dengan merekam kejadian-kejadian yang terjadi pada beliau dan pada masa-masa beliau hidup serta bersungguh-sungguh menukil hal-hal tersebut dengan penukilan yang teliti dan akurat baik dalam buku-buku hadits atau siroh atau buku-buku sejarah umum.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa sejarah (siroh) Rasulullah merupakan bidang yang sangat penting yang digeluti kaum muslimin dahulu dan sekarang,dan dengan izin Allah senantiasa menjadi tempat perhatian kaum muslimin, karena siroh Rasulullah merupakan aplikasi kongkrit dari syariat Ilahi dan penjelas hukum-hukumnya. Dan dari sini muncullah perhatian yang sangat besar dari kalangan para ulama Islam untuk mempelajari, meneliti dan menulis buku-buku dan referensi sejarah beliau dengan macam ragam metode penulisan dan penelitian yang mereka pakai sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang siroh Rasulullah.

A.Pengertian Siroh Nabi

Untuk meluruskan persepsi tentang siroh Nabi diperlukan satu pengertian yang benar terhadap siroh tersebut,maka yang dimaksudkan dengan siroh Nabi disini adalah kumpulan berita-berita yang diriwayatkan atau dikisahkan tentang kehidupan Rasulullah yang meliputi nasab, kandungan beliau di perut ibunya, kelahirannya dan keadaan kehidupan yang menyertainya, pemeliharaannya, masa kecilnya, masa remaja dan kedewasaan beliau, pengangkatan beliau sebagai Nabi, turunnya wahyu kepada beliau dan permulaan dakwahnya, masa-masa dakwah di makkah dan setelah hijrohnya ke madinah, pembentukan negara di madinah dan pembelaan beliau terhadap negara tersebut, jihad beliau melawan musuh-musuh agama di dalam negara dan diluarnya,pengiriman duta, utusan-utusan dan angkatan perang, kepemimpinan beliau, perang-perang penting, pengembangan dakwah islam di jaziroh arab dan diluarnya, sakit dan kematian beliau dan pengaruhnya terhadap para shohabat sampai perawatan jenazah beliau.

B. Target Dan Faedah Mempelajari Siroh Nabi

Diantara target dan faedah mempelajari siroh Rasulullah adalah :

1. Mendapatkan dan menemukan aplikasi kongkrit dari hukum-hukum Islam yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran dan hadits -hadits nabi dalam ragam bidang kehidupan.

2. Mencontoh Rasulullah menuntut seorang untuk mengetahui sifat-sifat dan keadaan kehidupan beliau dalam segala bidang kehidupan karena beliau adalah suri tauladan yang baik yang harus dicontoh.sebagamana firman Allah :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)

3 Mencontoh dan mengikuti Rasulullah merupakan tanda kecintaan seseorang terhadap Allah dan yang melakukannya akan mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan-Nya,sebagaimana firman Allah :

Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

4. Mendapatkan dan menemui dalil-dalil mu`jizat yang dapat menguatkan dan menambah iman.

5. Menguatkan azam kaum mukminin yang mengikuti jalannya Rasulullah dan memantapkan mereka dalam membela agama dan kebenaran serta memberikan ketenangan dalam hati-hati mereka dengan mengenal apa yang terdapat dan terkandung dari siroh Rasulullah berupa sikap-sikap keimanan dan kekuatan aqidah beliau dalam menghadapi cobaan dan musuh-musuhnya

6. Dalam siroh Rasulullah terdapat pelajaran dan nasehat serta hikmah-hikmah yang bisa diambil oleh semua muslim baik penguasa atau rakyat untuk membentuk manusia yang baik.

7. Siroh Rasulullah merupakan gambaran contoh yang tinggi yang dimiliki seorang manusia yang sempurna dari segala sisi.

8. Siroh Rasulullah berisikan pelajaran-pelajaran yang banyak bagi segala lapisan masyarakat manusia dan meringankan mereka dalam menghadapi segala cobaan dan ujian hidup yang mereka hadapi terlebih lagi para da`i

9. Membantu memahami Alquran dan sunnah Rasulullah.

10.Mendapatkan banyak pengetahuan-pengetahuan yang benar tentang bermacam-macam ilmu-ilmu keisalman dari aqidah, syariat, akhlaq, tafsir, hadits, politik, pendidikan dan sosial kemasyarakatan dan yang lain-lainnya.

11.Mengenal perkembangan dan pertumbuhan dakwah Islam dan apa yang terjadi pada Rasulullah dan shahabat-shabatnya dalam menegakkan kalimat Allah serta apa yang dihadapi para shahabat dari kesulitan-kesulitan dan bagaimana mereka bersikap serta solusinya

12.Mengenal sebab-sebab turunnya ayat-ayat Alquran dan korelasi ucapan-ucapan Rasulullah dan shahabat-shahabatnya.

13. Mengenal naskh dan mansukh dalam Alquran dan hadits

14. Mengenal dengan baik mukjizat-mukjizat yang Allah karuniai atas Rasulullah

15. Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah

C. Keistimewaan Siroh Nabi

Siroh Rasulullah merupakan siroh (sejarah) yang memiliki banyak keistimewaan sehingga nikmat untuk dipelajari dan ditelaah dibandingkan dengan siroh-siroh yang lainnya,sebagaimana dia merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh seorang ulama syariat dan da`i Islam dan orang yang merasa bertanggung jawab terhadap perbaikan umat manusia, karena dengan mencontoh gaya dan cara dakwah Rasulullah menjadikan dakwah mereka benar dan berhasil.

Diantara keistimewaan siroh Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. Siroh Rasulullah merupakan siroh yang paling absah yang menceritakan sejarah para Nabi dan Rasul,atau tokoh-tokoh pembaharuan umat manusia, karena siroh Rasulullah sampai kepada kita melalu jalan penyampaian yang paling benar dan paling kuat sehingga membuat kemudahan-kemudahan dalam mengenal kejadian-kejadian bersejarah yang ada didunia ini.

Dan keistimewaan ini tidak terdapat pada siroh selain beliau , kita lihat siroh Nabi Musa .telah tercampur antar kejadian-kejadian yang terjadi pada beliau dengan hal-hal yang dimasukkan oleh orang yahudi dari penyimpangan dan kesesatan,sehingga kita tidak bisa menjadikan At Taurot sebagai sumber pengambilan siroh beliau yang akurat dan benar.demikian juga siroh Nabi Isa ,karena beredarnya injil-injil yang banyak yang tidak sama isi kitab yang satu dengan yang lainnya,sehingga kita tidak bisa mengambil siroh beliau dengan jaminan keotentikannya.

2. Kehidupan Rasulullah adalah kehidupan yang sangat jelas dalam setiap marhalah (tingkatan) nya,sejak menikah orang tua beliau sampai wafatnya beliau,sehingga dapat diketahui kelahirannya, masa kecil dan remajanya, kehidupannya sebelum kenabian dan setelah kenabian sampai wafatnya beliau sehingga berkata seorang pengkritik barat:sesungguhnya Muhammad adalah satu-satunya orang yang dilahirkan (jelas seperti) terangnya sinar matahari.

3. Sesungguhnya siroh Rasulullah menceritakan siroh seorang manusia yang dimuliakan Allah sebagai Rasul dan tidak mengeluarkannya dari sifat kemanusiaannya dan tidak ada padanya dongeng-dongeng yang tidak benar.

4. Siroh Rasulullah menyeluruh kepada seluruh sisi-sisi kehidupan beliau,karena dia mengisahkan kepada kita sejarah kehidupan beliau dimasa muda sebelum menjadi Nabi dan juga menceritakan kepada kita tentang beliau sebagai seorang pembawa bendera dakwah yang memiliki gaya dan cara yang efektif dan akurat dalam menyampaikan isi dakwahnya,sebagaimana juga mengisahkan beliau sebagai seorang pemimpin negara dan sebagai pemimpin rumah tangga dan pendidik serta politikus sejati.

Ringkasnya siroh Rasulullah meliputi seluruh sisi kehidupan sosial kemanusiaan dalam suatu tatanan kemasyarakatan yang menjadikan beliau sebagai tauladan yang baik bagi da`i, panglima, bapak, suami, teman,pendidik,politikus,pemimpin negara dan yang lain-lainnya.

5. Siroh Rasulullah memberikan kepada kita tanda kebenaran risalahnya dan kenabiannya.

D. Sumber pengambilan siroh Rasulullah .

Sesungguhnya siroh Rasulullah -secara hakikatnya- adalah ibarat dari risalah yang beliau bawa kepada masyarakat manusia,oleh karena itu sudah selayaknya untuk ditayangkan dalam bentuk yang benar,akurat dan terperinci,sehingga bisa bermanfaat bagi kaum muslimin seluruhnya,maka untuk mencapai hal itu perlu kita menengok kembali kepada sumber-sumber pengambilan siroh tersebut.

Adapun sumber-sumber pengambilan siroh Rasulullah yang menjadi sumber rujukan para ulama dalam menjelaskan siroh tersebut,dapat di globalkan menjadi 8 sumber,yaitu:

1. Alquran

Sesungguhnya Terkandung dalam Alquran banyak kejadian-kejadian dari siroh nabi baik ketika di masa makkah atau di madinah.Alquran telah mengisahkan kepada kita keadaan beliau di masa kecilnya ketika dalam keadaan yatim dan faqir sebagaimana yang ada didalam firman Allah :

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan? (QS. 93:6-8),

dan menceritakan pula kisah turunnya wahyu di gua hiro` dalam firman-Nya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96:1-5)

dan tentang mu`jizat isra` dan mi`roj dalan firman-Nya:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17:1)

dan tentang hijrohnya beliau bersama Abu Bakr dalam firman-Nya:

Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:40)

serta menceritakan pula kisah perang Ahzab dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata:Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata:Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah:Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah:Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.Katakanlah:Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya:Marilah kepada kami.Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan.Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya.Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu.dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang mu`min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. 33:9-22) dan :

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka.Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak.Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (QS. 33:26-27)

dan kisah-kisah lainnya yang cukup banyak.

Akan tetapi untuk dapat mengambil faidah yang sempurna dari Alquran harus melihat kembali kepada buku-buku tafsir yang terpercaya seperti Tafsir bil ma`tsur yaitu Tafsir yang membawakan hadits-hadits yang bersanad periwayatan dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran seperti Tafsir ath Thobary dan Tafsir Ibnu Katsir dan buku-buku yang menjelaskan Naasikh dan Mansukh serta buku-buku yang menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat-ayat Alquran dengan selalu melihat bahwa hadits-hadits tersebut tidak diterima begitu saja akan tetapi harus dilihat ke absahannya.

2 Buku-buku Hadits (hadits -hadits Nabi)

Adapun arti pentingnya buku-buku hadits dalam pengambilan siroh Rasulullah kembali kepada apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut dari kumpulan ucapan,perbuatan,persetujuan dan sifat-sifat beliau baik fisik ataupun akhlaq,karena hadits -hadits tersebut menceritakan kehiduupan beliau sehari-hari sehingga memiliki hubungan yang erat sekali dalam pengambilan siroh Rasulullah. Dan tidak diragukan lagi bahwa madah siroh dalam buku-buku hadits adalah akurat dan wajib di jadikan sandaran dalam pengambilan siroh dan di dahulukan dari riwayat-riwayat yang ada dibuku-buku sejarah dan yang lainnya

Diantara buku-buku hadits yang penting dan banyak menceritakan kejadian-kejadian sejarah siroh adalah Shohih Bukhory, Shohih Muslim, Jami` At Tirmidzy, Sunan Abi Daud, Musnad Ahmad bin Hambal ,Sunan An Nasa`I ,Sunan Ibnu Majah dan Mushanaf Ibnu Ab Syaibah serta yang lain-lainnya.

3. Buku-buku Syamaail

Buku-buku Syamaail adalah buku-buku yang dikarang untuk menjelaskan sifat-sifat Rasulullah .buku-buku ini sangat penting untuk melengkapi siroh Rasulullah sehingga sebagian ulama menulis buku-buku ini terpisah dari buku-buku hadits,padahal kalau dilihat kembali,sebenarnya sebagian besar hadits-hadits yang berhubungan dengan hal itu ada dalam buku-buku hadits.dan diantara ulama-ulam tersebut adalah Imam At Tirmidzy dalam kitabnya Syamaail Muhammadiyah,demikian pula Imam AL Baghowy dalam kitab Al Anwaar fi Syamaail An Nabi Al Mukhtar.

4. Buku-buku Dalaail An Nubuwah

Buku-buku ini adalah buku-buku yang dikarang untuk menjelaskan bukti kebenaran kenabian dan mu`jizat-mu`jizat yang terjadi padanya.

Diantara buku-buku ini adalah kitab Dalaail An Nubuwah karangan Abu Nu`aim Al Ashbahany dan Dalaail An Nubuwah karangan Al Baihaqy.

5. Buku-buku Maghozy dan siroh

Buku-buku Maghozy ini menampilkan kejadian-kejadian siroh Rasulullah, peperangan beliau,pengiriman saraya(pasukan perang yang tidak dipimpin langsung oleh beliau) dan marhalah dakwah beliau.dan buku-buku ini merupakan referensi yang sangat penting dalam mempelajari siroh Rasulullah.

Demikian juga buku-buku siroh yang khusus menjelaskan siroh Rasulullah telah dikarang oleh para ulama sejak abad pertama hijriyah,dan diantara ulama-ulama yang terkenal dalam penulisan siroh secara umum adalah:Abdullah bin Abbas (Wafat tahun 78 H),sa`id bin sa`ad bin Ubadah,sahl bin Abi Hatsmah (wafat di zaman Muawiyah),Urwah bin Zubair (wafat tahun 92 atau 94 H),said bin Musayyib (wafat tahun 94 H),aban bin Utsman bin Affan (wafat tahun 87 atau 105 H) dan Abu Fadhoolah Abdullah bin Kaab bin Maalik Al Anshory (wafat tahun 97 H).dan dalam abad kedua Hijriyah:Al Qashim bin Muhammad bin Abi Bakr As Shiddiq (wafat tahun 107H),wahab bin Munabbih (wafat tahun 114 H),Syarahbiil bin Said (wafat Tahun 123 H),Abu Ruh Yazid bin Rumaan Al Asady (wafat tahun 130 H),Abul Aswad Muhammad bin Abdur-Rahman bin Naufal Al Asady (Wafat tahun 131 H),Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm (wafat antara tahun 130 - 135 H),Musa bin Uqbah (wafat tahun 141 H),Muhammad bin Ishaaq Al Muthaliby (wafat tahun 151 H),Yunus bin Yazid Al Aily (wafat tahun 152 H),Ma`mar bin Rasyid Al Bashry(wafat tahun 154 H),Abu Ma`syar As Sindy (wafat setelah tahun 170 H),Abu Ishaaq Al Fazaary (wafat tahun 187 H) dan Al Walid bin Muslim Ad Dimasyqy (wafat tahun 195 H).Sedangkan daam abad ketiga hijriyah muncul ulama-ulama siroh seperti :Muhammad bin Umar Al Waqidy (wafat tahun 207 H),Abdur-Razaq bin Hammaam As Shon`any (wafat tahun 211 H),Sa`id bin Al Mughiroh bin As Shoyaad Al Mushishy (wafat tahun 220 H),Ahmad bin Muhammad Al Warroq (wafat tahun 227 H),Muhammad bin Saad bin Manii` Az Zuhry (wafat tahun 230 H),Muhammad bin Aidz Al Qurasyi (wafat tahun 224 H),sulaiman bin Thorkhaan At Taimy (wafat tahun 245 H),Hisyam bin Ammar (wafat tahun 245 H),Said bin Yahya Al Umawy (wafat tahun 249 H),dan Umar bin Syabah bin Ubaid (wafat tahun 262 H).Akan tetapi dari mereka semuanya ini hanya beberapa saja yang sampai sekarang masih terkenal dan tersohor dalam siroh,diantaranya Ibnu Ishaaq,Al Waqidy dan Ibnu Sa`ad.

6. Buku-buku yang dikarang dalam sejarah dua tanah suci yaitu Makkah dan Madinah.

Para Ulama telah menulis karangan yang khusus tentan dua kota suci ini dalam rangka menjelaskan sejarah kedua kota ini sebeum dan sesudah islam,sehingga banyak membantu dalam memahami siroh Rasulullah ,sehingga dengan demikian juga merupakan satu referensi tang sangat penting dalam siroh Rasulullah.

Diantara bku-buku tersebut yang telah diterbitkan pada masa ini adalah: Taarikh Makkah oleh Abul Walid Muhammad bin Abdullah Al Azrooqy (wafat tahun 250 H),Taarikh Makkah wa ma Jaa fiha min al atsar oleh Ibnu Najjaar,Akhbaar madinah Rasulullah wa taarikh Makkah oleh Al Faakihany (wafat tahun 280 H),Syifaul Gharam Bi Akhbaar balad Allah Al Haraam oleh Muhammad bin Ahmad Al Faasy (wafat tahun 832 H).

dan buku-buku ini seperti buku-buku yang lainnya dapat dimanfaatkan dengan sempurna dan baik setelah dilihat kembali keabsahan berita yang ada.

7. Buku-buku taarikh umum.

Buku-buku ini memaparkan sejarah umat manusia dan negara serta tokoh-tokoh sejarah secara umum sejak sebelum islam sampai di masa penulisnya,seperti Taarikh al Umam wa Ar Rausul wa Al Muluk oleh Ibnu Jarir Aththobary dan Tarikh Kholifah bin Khiyath Al Ushfury (wafat tahun 240 H).Buku-buku ini merupakan referensi penting dalam memahami siroh Rasulullah e karena menceritakan kejadian-kejadian yang ada pada waktu iti secara umum

8. Buku-buku sastra arab (Adab).

Ini merupakan referensi pelengkap dalam siroh,karena berisikan syair-syair yang banyak mengisahkan hal-hal yang terjadi dimasa-masa Rasulullah dan sekitarnya.

Inilah referensi-referensi yang bisa kita jadikan rujukan dalam mempelajari siroh dengan melihat kembali keabsahan berita yang tertuangkan dalam buku-buku tersebut,sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan beliau .

E.Bagaimana Memahami Siroh Nabi.

Seorang yang ingin memahami siroh Nabi dengan benar dan akurat harus kembali mempelajari dan merenungkan serta meneliti sumber-sumber pengambilan siroh tersebut dengan memperhatikan metode-metode penulisan siroh Nabi yang telah ditulis para ulama dengan memandang hal-hal sebagai berikut:

1. Meyakini bahwa As Sunnah An Nabawiyah adalah wahyu dari Allah taala dan siroh merupakan bagian dari Sunnah tersebut.Rasulullah bersabda:

2. Mengetahui bahwa Rasululah ketika terjun memperbaiki umat manusia bukanlah sekedar pembaharu sosial yang bersandar kepaa kepakaran dan kehebatannya semata akan tetapi ddia adalah seorang Rasul yang diuutus Allah dengan wahyu sehingga keberhasilan beliau adalah tauufiq dari Allah,olehkarena itu seluruh aspek kehidupannya berada dibawah bimbingan dan arahan dari Allah.dan dengan demikian kita akan melihat siroh Nabi sebagai siroh yang maksum dan dapat mengarahkan akal kita untuk memahami konsep ini.

3. Memahami siroh Nabi sebagaii siroh yang komprehensif dan sempurna yang menggambarkan satu pribadi yang sempurna

4. Mempelajarinya untuk dapat mengambil faedah dan pelajaran yang dapat digunakan dalam mengarungi kehidupan ini.






copy © center Salafyoon.Net 2003

Kamis, 26 Maret 2009

Dunia Wali

Ibnu Araby Tentang Khatamul Auliya'
Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’). Ibu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi:

Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?
Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.

Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan 3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta.
Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H.
Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.

Dunia Wali

Ibnu Araby Tentang Khatamul Auliya'
Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’). Ibu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi:

Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?
Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.

Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan 3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta.
Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H.
Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.

Mulailah Dari Dirimu

Syeikh Jalaluddin Rumi
Rumi berkata: Siapa nama anak muda itu ? Seseorang menjawab: “Syaifuddin (PedangAgama)”.

Rumi berkata: Tak seorang pun menilai sebuah pedang sedangkan la masih berada di dalam sarungnya. Sesungguhnya, Pedang Agama adalah seseorang yang mempertahankan sang jalan, mempersembahkan kerja keras mereka sepenuhnya kepada Allah, yang mengungkap kebenaran dari kesalahan dan membedakan yang hak dari yang batil. Tetapi terlebih dahulu mereka mengoreksi diri dan memperbaiki sifat mereka sendiri: “Mulailah dari dirimu sendiri,” kata Nabi.

Jadi mereka mengarahkan seluruh kedisiplinan mereka kepada diri sendiri, seraya berkata, “Pada akhirnya, aku juga seorang manusia. Aku memiliki tangan dan kaki, telinga dan pemahaman, mata dan mulut. Para nabi dan wali yang mencapai ridha Allah dan, mencapai tujuan mereka-mereka adalah manusia seperti diriku dengan akal, lidah, tangan dan kaki. Mengapa mereka ditunjukkan ke jalan itu? Mengapa pintu ini yang terbuka bagi mereka, tertutup untukku?” Orang semacam itu mengoreksi diri siang malam, dan berjuang, seraya berkata, “Apa yang aku lakukan, sehingga aku tidak diterima?” Mereka terus mencari sampai mereka menjadi Pedang Allah dan Lidah Kebenaran.

Misalnya, sepuluh orang memasuki sebuah rumah. Sembilan menemukan jalan itu, tetapi yang satu tetap berada di luar dan tidak diizinkan masuk. Tentu saja orang ini menengok batinnya dan meratap, seraya berkata, “Apa yang telah aku lakukan sehingga aku tetap berada di luar? Sikap-sikap apa yang membuatku bersalah?” Orang itu menghubungkan kesalahan itu kepada dirinya sendiri dan mengakui kesalahan dan keburukan sikap mereka. Mereka tidak akan pernah berkata, “Allah telah melakukannya kepadaku, apa yang bisa aku lakukan? Atas kehendak Allah-lah ini terjadi. Jika Allah memang menghendakinya, tentu saja aku akan ditunjukkan ke jalan itu.” Kata-kata semacam itu sangat menyelewengkan Allah dan menghunuskan pedang melawan Allah. Orang semacam itu akan menjadi Pedang Melawan Allah dan bukan Pedang Allah.

Allah berada jauh dari memiliki keluarga dan kawan. “Dia tidak pernah lupa, dan belum pernah dilupakan,” kata al-Qur’an. Kamu tidak dapat mengatakan bahwa mereka yang telah menemukan jalan menuju Allah lebih menjadi sanak Allah, lebih kawan-Nya ataupun lebih erat berhubungan dengan-Nya. Tak seorang pun pernah berdekatan dengan Allah kecuali dari bawah.

Allah sangat berkecukupan, Kamulah orang-orang yang membutuhkan.
Berdekatan dengan Allah tidak pernah dicapai, kecuali melalui pengabdian dan kepasrahan. Dia adalah Maha Pemberi. Dia memenuhi baju lautan dengan batu-batu mulia, Dia membungkus onak dalam hiasan mawar, Dia memberkati kehidupan dan ruh di atas segenggam debu, segalanya tanpa pendahulu, semua tanpa pembedaan. Seluruh dunia menerima bagian mereka dari-Nya.

Ketika orang-orang mendengar tentang seorang yang dermawan yang membagi-bagi hadiah dan pertolongan yang sangat berharga, umumnya mereka ingin berkunjung kepada seorang pemberi harta semacam itu, dengan harapan akan menerima satu bagian dari pemberian itu. Karena Keagungan Allah begitu terkenal di seluruh dunia, mengapa tidak kamu memohon saja kepadaNya? Mengapa tidak kamu meminta kepada-Nya jubah jubah kehormatan, atau hadiah yang mewah? Malah, kamu duduk dengan jumud sambil berkata, “Jika memang Dia menginginkannya, Dia bisa memberikannya kepadaku.” Jadi, kamu tidak pernah meminta apa pun kepada-Nya.

Seekor anjing, tanpa akal atau pemahaman, ketika lapar, datang kepadamu dan mengibaskan ekornya seolah-olah hendak berkata, “Beri aku makanan. Aku lapar pada makanan yang kamu punyai. Tolong beri aku sedikit saja.” Seekor anjing tahu itu... Apakah kamu lebih bodoh dari anjing? Anjing tidak puas untuk tidur malas-malasan dan berkata, “Jika dia mau, dia akan memberikan makanan itu kepadaku,” tetapi memohon dan mengibaskan ekornya. Jadi, hendaknya kamu mengibaskan ekormu dan memohon kepada Allah, karena di hadapan Sang Pemberi itu, memohon adalah ungkapan hasrat yang mengagumkan. Jika kamu kekurangan harta, mintalah kepada Dzat Yang tidak kikir, dan penjaga kekayaan yang besar.
Allah selalu dekat denganmu. Setiap pikiran dan gagasan yang kamu pahami, di situ ada Allah - karena Allah memberi wujud kepada gagasan dan pikiran itu. Tetapi Allah begitu dekat sehingga kamu tidak bisa melihat-Nya. Apa yang aneh? Dalam setiap perbuatan yang kamu lakukan, akal membimbingmu dan mengawali tindakanmu, tetapi kamu tidak melihat akalmu. Kamu melihat efeknya, tetapi kamu tidak bisa melihat esensinya. Misalnya orang pergi mandi. Kemana pun mereka pergi di dalam bak mandi, mereka merasakan panasnya api, meskipun mereka tidak melihat api itu. Ketika mereka meninggalkan bak itu, maka mereka melihat api dan nyalanya yang sesungguhnya. Dari sini, mereka mengetahui bahwa panas bak mandi berasal dari sebuah api.
Manusia juga merupakan sebuah bak raksasa, dan di dalam dirinya bersemayam panas akal, ruh dan keakuan yang rendah. Tetapi ketika kamu meninggalkan bak ini dan memasuki dunia yang lain, kamu melihat esensi-esensi yang sesungguhnya. Maka kamu mengetahui bahwa kecerdasan berasal dari pancaran akal, bahwa penyimpangan dan pretensi memancar dari keakuan yang rendah, dan denyut kehidupan itu sendiri adalah hasil dari ruh. Kamu dapat dengan jelas melihat esensi-esensi ketiganya, tetapi sepanjang kamu berada di dalam bak, ketiga esensi itu tak terlihat. Kamu hanya dapat mengalami efeknya.

Ketika kita berada di Samarkand, Khwarizmsyah bergegas menuju Samarkand dan mengadakan penyerangan bersama balatentaranya. Tidak jauh dari kita hiduplah seorang gadis yang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga tak seorang pun dapat menyamainya di seluruh penjuru kota. Aku mendengarnya berkata, “Oh Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkanku jatuh ke tangan para pembuat dosa. Aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkan itu. Aku pasrah kepada-Mu, Ya Allah.”

Ketika kota dikalahkan dan seluruh penduduknya dijadikan tawanan, bahkan para pelayan wanita gadis itu pun ditangkap. Tetapi gadis itu dibiarkan saja. Karena seluruh kecantikannya, tak seorang lelaki pun tahan untuk menatapnya. Dari sini, ketahuilah bahwa siapa pun yang memasrahkan diri kepada Allah akan tetap aman dari marabahaya dan selamat. Tak satu pun permohonan manusia di hadapan Allah itu diabaikan. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah, dan tuntutlah apa yang kamu butuhkan dari Allah, karena permohonanmu tidak akan sia-sia.
“Panggilah Aku dan Aku akan menjawabmu.”

Seorang darwis mengajarkan kepada anak laki-lakinya bahwa apa pun yang dia butuhkan, “Mintalah kepada Allah.” Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, ketika anak itu sendirian di dalam rumah, dia menjadi lapar. Seperti biasanya dia berkata, “Aku lapar, aku ingin makan.” Tiba-tiba semangkuk bubur muncul, dan anak itu memakannya sampai kenyang. Ketika ayah dan ibunya pulang, mereka berkata, “Tidakkah kamu lapar?” Sang anak menjawab, `Aku hanya meminta makanan dan melahapnya.” Ayahnya berkata, “Terpujilah Allah, keimanan dan kepasrahanmu kepada Allah telah tumbuh kuat.”

Ketika Maryam dilahirkan, ibunya bersumpah akan mempersembahkan Maryam kepada Rumah Allah dan tidak menyokongnya. Dia meninggalkan Maryam di sebuah Kuil. Zakaria kemudian merawat anak itu, tetapi semua orang menginginkannya juga. Pada zaman itu, jika ada kelompok yang bertentangan, maka sebuah tongkat harus dilemparkan ke dalam air-orang yang tongkatnya mengambang paling lama dialah yang berhak. Demikian terjadilah pada tongkat Zakaria yang mengambang paling lama. Mereka semua setuju bahwa dia memiliki hak untuk merawat Maryam. - Jadi, setiap hari Zakaria membawa makanan kepada anak itu, tetapi : dia selalu menemukan pasangan makanan yang sama di samping `anak itu. Dia berkata, “Maryam, aku bertanggung jawab kepadamu. Dari mana asal makanan ini?” Maryam menjawab, “Kapan saja aku membutuhkan makanan, aku memohon kepada Allah dan Dia mengirimkannya kepadaku. Karunia dan kasih sayangnya tanpa batas. Siapa pun pasrah kepada-Nya, kepercayaannya tidak akan sia-sia.”

Sekarang, setelah Zakaria menyadarinya dia berdoa, “Ya Allah, karena Engkau memenuhi kebutuhan anak ini, tolong kabulkan keinginanku. Berilah aku anak laki-laki yang kelak akan menjadi kawan-Mu, yang, tanpa enggan, akan berjalan bersama-Mu dan khusyuk dalam kepatuhan kepada-Mu.” Allah menghidupkan Ismail, meskipun ayahnya tua dan lemah, sedangkan ibunya sangat tua dan belum pernah melahirkan seorang anak pun ketika masih muda. Tetapi, dia hamil dan melahirkan anak itu.

Tidakkah kamu lihat bahwa semua ini tidak lain adalah bukti atas kemahakuasaan Allah? Segala sesuatu berasal dari-Nya, dan kehendak-Nya pasti akan terlaksana. Orang beriman tahu bahwa di balik dinding ada Dzat Yang mengenal setiap keadaan dalam kehidupan kita, satu demi satu, dan yang melihat kita meskipun kita tidak melihat-Nya. Tetapi mereka yang berkata, “Tidak, ini hanyalah sebuah kisah,” mereka tidak dapat mempercayainya. Saatnya akan tiba ketika mereka akan menyadari kesalahan mereka.

Misalnya, kamu sedang bermain petak umpet. Sekalipun kamu tidak melihat siapa pun, jika kamu tahu orang-orang berada di balik dinding sambil mendengarkan, kamu akan terus bermain, karena kamu adalah seorang pemain petak umpet. Pada akhirnya, tujuan shalat bukanlah berdiri, ruku’ dan sujud sepanjang hari, karena saat-saat kesatuan spiritual yang kamu miliki dalam shalat hendaknya selalu bersamamu. Baik ketika tidur atau terjaga, menulis atau membaca, kamu hendaknya tidak jauh dari mengingat Allah.

Berbicara dan membisu, tidur dan terjaga, marah dan mema`afkan semua sifat ini hendaknya seperti bergulirnya kincir air. Tentu saja kincir berputar karena air, dan la tahu ini, karena ia telah mencoba untuk bergerak tanpa air. Kincir mana pun yang percaya bahwa la adalah sumber perputarannya sendiri adalah sifat kebodohan dan kejumudan.

Sekarang perputaran ini terjadi di dalam sebuah ruang yang sempit, karena itulah sifat dunia materi ini. Oleh karena itu, berkatalah kepada Allah, “Ya Allah, anugerahkan kepadaku perputaran lain yang bersifat spiritual, karena semua kebutuhanku telah Engkau penuhi.” Oleh karena itu, bawalah kebutuhan-kebutuhanmu kepada-Nya segera, dan jangan pernah sekalipun melupakan-Nya, karena mengingat-Nya adalah kekuatan, bulu dan sayap bagi seekor burung jiwa.

Melalui pengingatan kepada Allah, sedikit demi sedikit hati ruhaniah menjadi teriluminasi dan terlepas dari dunia materi. Sebagaimana seekor burung yang mencoba untuk terbang ke langit, meskipun la tidak pernah berhasil mencapai tujuan itu, tetapi setiap saat la terbang menjauh dari bumi dan memanggil burungburung yang lain. Atau misalnya, bebauan menyergap dari dalam sebuah kaleng, tetapi mulut kaleng itu terlalu kecil, dan ketika kamu mencapai di dalamnya kamu tidak bisa membuang bebauan itu. Sebaliknya, tanganmu wangi dan hidungmu penuh dengan aroma itu.

Jadi dengan mengingat Allah-lah: meskipun di saat ini kamu tidak mencapai Esensi Allah, tetapi kamu meninggalkan jejaknya padamu, dan kamu mendapatkan keuntungankeuntungan besar yang dimunculkan dari jejak itu.

---(ooo)---

Minggu, 22 Maret 2009

Perancangan Allah Itu Yang Terbaik...

Jangan bersedih... Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, hambaNya... Kita diuji mengikut tahap keimanan seseorang... Walaupun perit... Namun kadang-kadang yang perit itulah penawar yang terbaik...

Buat Menteri Besar Perak, Datuk Seri Ir Mohd Nizar Jamaluddin ini ujian besar dari Allah... Kuatkan semangat... Tiada apa yang perlu digusarkan... kerana perancangan Allah itulah yang terbaik... Yakin dengan janji Allah bahawa Dia akan bantu sesiapa sahaja yang membantu agamaNya... Biar kita turun dengan bermaruah... Bukan kemenangan matlamatnya... Namun redha Allah yang kita cari....

Jangan bersedih... Sesungguhnya Allah bersama-sama kita...

Jumat, 20 Maret 2009

Mengenal Diri Melalui Sifat Dan Af'al Allah

Mengenal Diri Melalui Sifat Dan Af'al Allah

Dalam sebuah hadis yang cukup populer di kalangan kaum Sufi dinyatakan bahwa: “Man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah”, (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh mengenal Tuhannya). Hadis populer ini mengisyaratkan bahwa pengenalan diri merupakan suatu yang penting dilakukan, karena dengan pengenalan diri berarti membuka sambungan untuk mengenal Tuhan. Pengenalan diri dapat dilakukan dengan melakukan tiga tahapan penyempurnaan diri yang di dalam tasawuf dinamakan takhalli, tahalli, dan tajalli.

Tahapan pertama takhalli. Perkataan takhalli secara bahasa berarti proses pengosongan. Istilah ini di dalam tasawuf mengandung penegertian mengosongkan diri dari berbagai penyakit hati. Pengosongan diri mengandung arti pembersihan dan penyempurnaan diri atau jiwa kita. Ada beberapa tahap pembersihan diri dan penyempurnaannya. Pertama, membersihakan diri dengan memurnikan keyakinan dari kemusyrikan, yakni tindakan, perkataan, dan keyakinan yang menjurus kepada menyekutukan Allah. Semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah, beramal saleh, dan membenarkan para Rasul, menurut ‘Abd al-Fattah ‘Abd Allah, barakah termasuk ke dalam kelompok ahl al-tawhid (orang yang bertauhid). Dengan memurnikan keyakinan dari kemusyrikan berarti memurnikan tauhid kepada Allah, dan dengan demikian ahl al-tawhid memperoleh anwar al-mahabbah (cahaya cinta) yang disebabkan oleh tauhidnya kepada Allah; namun, jiwanya masih tetap dikuasai oleh berbagai dorongan rendah.
Kedua, membersihkan diri dengan menyembuhkan berbagai penyakit hati yang di dalam tasawuf dinamakan tazkiyat al-nafs (pembersihan jiwa). Pembersihan diri dari berbagai penyakit kalbu harus berpangkal dari adanya kesadaran bahwa suasana keruhaniahan kita diselimuti oleh dosa-dosa dan maksiat yang melekat pada diri kita, serta ada kesungguhan untuk membersihkannya. Di antara amaliah ketasawufan yang tergolong ke dalam tahapan takhalli adalah: Taubat secara benar dan konsisten; memperbanyak membaca istihgfar dengan menghayati maknanya secara mendalam; serta memperbanyak berddzikir kepada Allah baik secara lisan maupun secara khafi (tersembunyi) di dalam kalbu.

Tahapan kedua, tahalli. Perkataan tahalli secara bahasa berarti proses menghiasi atau memperindah sesuatu. Adapun yang dimaksud dengan tahalli dalam tasawuf adalah menghiasi atau memperindah jiwa kita dengan kesucian. Dari jiwa atau hati yang suci akan memancar akhlak mulia, dalam hubungan dengan Allah, maupun dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta. Ada beberapa hal penting yang perlu dibiasakan di dalam hidup agar kita dapat melakukan tahalli yakni menghiasi atau memperindah diri, jiwa, atau hati dengan upaya-upaya sebagai berikut:
Pertama, melatih diri untuk merasakan kefakiran. Istilah kefakiran merupakan istilah Al-Qur`an. Perkataan fakir atau kefakiran berasal dari kata kerja di dalam bahasa Arab faqara yang berarti: membutuhkan. Dari kata kerja faqara kemudian terbentuk kata sifat faqir dalam bentuk tunggal yang berarti seorang yang membutuhkan, dan fuqara` dalam bentuk jamak yang berarti orang-orang yang membutuhkan. Istilah ini di dalam Al-Qur`an digunakan dalam dua katagori, katagori ekonomi dan katagori eksistensial. Secara ekonomi istilah faqir atau fuqara mengandung pengertian seorang atau sekelompok orang yang penghasilan hariannya tidak mencukupi kebutuhan fisik minimumnya. Oleh karena itu lapisan masyarakat yang tergolong faqir atau fuqara membutuhkan bantuan finansial, modal usaha, atau keterampilan kerja untuk mengembangkan tarap hidupnya yang wajar. Kaum Muslimin yang tergolong faqir atau fuqara ini berhak menerima zakat, infaq, dan shadaqah dari sesama kaum Muslimin yang mampu sebagai bentuk solidaritas sosial di antara saudara seiman.

Sementara itu istilah faqir atau fuqara dilihat dari eksistensi manusia di hadapan Allah mengandung pengertian bahwa manusia secara universal membutuhkan Allah. Pada hakekatnya tidak ada seorang atau sesuatu pun di antara makhluk Tuhan ini yang tidak membutuhkan Allah. Keberadaannya sangat tergantung kepada eksistensi Allah. Manusia membutuhkan kasih sayang, rahmat, pertolongan, perhatian, bimbingan, petunjuk, ampunan, kerelaan, cinta, dan kedekatan kepada Allah. Faqir atau fuqara dalam pengertian ini ditegaskan di dalam Al-Qur`an sebagai berikut: “Wahai seluruh umat manusia, kalian membutuhkan Allah; sedangkan Allah, Dia itu Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Fâthir: 15)
Ketika para sufi mengembangkan gaya hidup yang penuh dengan kefakiran; maka yang dimksud bukanlah kefakiran dalam katagori sosial ekonomi, melainkan kefakiran secara eksistensial. Mereka mengajak kaum Muslimin untuk menyadari eksistensi diri kita sebagai hamba dalam berhubungan dengan Allah, Sang Maha Pencipta. Dengan mengembangkan kesadaran kefakiran, maka akan tertolak di dalam diri kita perasaan istaghna merasa cukup dengan akal budi, kecerdasan, pengalaman, intuisi, dan materi, pangkat, wibawa, kharisma, pengaruh, dan jabatan yang sudah dimiliki sehingga tidak membutuhkan dan tidak perlu melibatkan Tuhan dalam kehidupan ini. Manusia yang bersikap istaghna terhadap Allah dikecam oleh Al-Qur`an sebagai berikut: “Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang baik; maka kelak Kami (Allah) akan menyiapkan baginya kehidupan yang sukar”. (Q.S. 92: 8-10) “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; karena dia memandang dirinya serba cukup Sesungguhnya hanya kepada Allah, Tuhanmu, kamu akan mudik (Q.S. 96: 6-8)

Kedua, melatih diri untuk merasakan, memupuk, dan mengembangkan kesabaran. Perkataan shabr dalam Al-Qur`an mengandung pengertian: keteguhan hati, kekokohan mental, keuletan, dan daya tahan yang tangguh. Shabr termasuk mentalitas para utusan Allah (Q.S. 46: 35). Orang-orang beriman dipesan agar memiliki mental shabr sebagaimana para Rasul Allah (Q.S. 3: 200) serta dipesan untuk saling mewasiatkan kepada kesabaran. (Q.S. 90: 17 dan Q.S. 103: 3). Sebab kesabaran itu indah (Q.S. 12:18 dan 83). Shabr pun merupakan media untuk memperoleh pertolongan Allah dan merasakan kekhusyuan dalam shalat. (Q.S. 2: 45 dan 153).

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 1166 M./561 H.) membagi shabr dalam tiga tingkatan: Pertama, shabr untuk Allah, yakni keteguhan hati dan kekuatan mental dalam melaksanakan segala perintah Allah dan dalam menjauhi segala larangan. Kedua, shabr bersama Allah, yaitu keteguhan hati dan kekuatan mental di dalam menerima kesagala ketentuan Allah yang diberlakukan kepada hamba-hamba-Nya. Ketiga, kesabaran atas Allah, yaitu keteguhan hati dan kekuatan mental terhadap apa yang dijanjikan Allah, berupa rizki, kelapangan, kecukupan, pertolongan, yang akan diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh di dunia dan akhirat.
Kesabaran merupakan kunci kesuksesan. Untuk meraih karunia Allah yang besar, mendekatkan diri kepada-Nya, memperoleh kedudukan terhormat di sisi-Nya, meraih cinta-Nya, dan mengenal-Nya secara mendalam, bahkan merasakan bersatu bersama-Nya hanya dapat diraih melalui kesuksesan dalam maqâm shabr. Nabi bersabda: “Seorang hamba Allah tidak akan memperoleh suatu kebahagiaan, sebelum harta dan fisiknya diuji. Sebab Allah jika mencintai seorang hamba akan mengujinya dengan berbagai cobaan. Sebab itu jika Allah menguji betrsabarlah” (H.R. Tirmidzi)

Ketiga, merasakan kematian sebelum datangnya kematian. Hal ini bisa kita renungkan dari hadis qudsi yang memaparkan firman Allah kepada Nabi Daud sebagai berikut: “Apabila hambaku dikusai oleh kerinduan kepadaku dan menyibukkan hatinya dengan diri-Ku, maka Aku jadikan ketenteraman dan kenikmatannya dalam berddzikir kepada-Ku. Aku pun akan menjadikan dia senantiasa dalam kerinduan kepada-Ku. Aku akan mengangkat tirai yang menghalangi Aku dengan dia. Aku mencinatai dia dan dia mencintai-ku sehingga dia tidak pernah alpa ketika semua manusia alpa, dia tidak pernah lupa ketika semua manusia lupa, dia tidak pernah tergelincir ketika semua manusia tergelincir. Itulah orang-orang saleh yang sebenarnya”.

Tahapan ketiga, tajalli. Perkataan tajalli secara bahasa berarti proses penampakan. Adapun yang dimaksud tajalli di dalam tasawuf tiada lain adalah memancarnya sifat-sifat Allah yang terkandung di dalam Asma` al-Husna pada diri seorang hamba yang diperoleh setelah seorang merasakan cinta yang mendalam kepada Allah dan mengenal-Nya dengan pandangan hati, bukan dengan akal budhi dan pandangan lahir. Mahabbah dan ma’rifah dua hal yang bisa diperoleh setelah kalbu benar-benar dibersihkan dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil serta menghiasinya dengan akhlak terpuji secara istiqamah.

Sifat dan Af ‘al Allah
Sifat dan perbuatan atau af‘al Allah terangkun di dalam Asma` al-Husna yakni nama-nama Allah yang indah. Asma` al-Husna atau nama-nama Allah yang indah dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kelembutan, kesantunan, cinta dan kasih sayang. Kelompok nama-nama Allah yang demikian dinamakan sifat-sifat Jamâliyyah Allah. Para peneliti tasawuf seperti Suchiko Murata memahami sifat-sifat Jamâliyyah Allah sebagai sifat feminin yang senantiasa memancarkan kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Kedua, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kegagahan, kekuatan, dan keperkasaan. Kelompok nama-nama Allah yang demikian dinamakan sifat-sifat Jalaliyyah Allah. Suchiko Murata memahami sifat-sifat Jalaliyyah Allah sebagai sifat maskulin yang senantiasa memancarkan kekuatan, keteguhan, keadilan, hukuman, dan keperkasaan. Kedua kelompok sifat Allah yang tercermin di dalam Asma` al-Husna ini tidak saling bertentangan atau kontradiktif, tetapi terpadu secara simponi dalam kesempurnaan Allah yang tercermin pada sifat Kamaliyyah Allah.

Dari sembilan puluh sembilan Asma` al-Husna yang disebut di dalam Al-Qur`an tujuh puluh dua nama menggambarkan sifat-sifat kelembutan, cinta, dan kasih sayang Allah yang termasuk ke dalam kelompok sifat-sifat Jamaliyyah Allah; sedangkan yang tergolong ke dalam kelompok yang menggambarkan kegagahan, kekuatan, dan keperkasaan Allah hanya dua puluh tujuh sifat yang dinamakan sifat-sifat Jalaliyyah Allah. Komposisi Asma` al-Husna yang lebih banyak menggambarkan sifat-sifat feminin Allah, menurut hemat penulis, menggambarkan bahwa kasih sayang Allah mendahului murka-Nya sebagaimana disebutkan di dalam hadis qudsi “sabaqat ghadlabi rahmati” (rahmat-Ku mendahului murka-Ku).
Berkenaan dengan Allah dan nama-nama Allah atau Asma` al-Husna Rasulullah saw. mengingatkan kaum Muslimin dengan sabda beliau: “takhallaqû bi akhlaq Allah” (Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah). Sabda Rasulullah saw. ini mengandung beberapa pelajaran yang sangat berharga berkenaan dengan cara kita merespon sifat dan perbuatan Allah. Pertama, sebaiknya kita senantiasa menyebut dan memanggil Tuhan dengan Asma` al-Husna, baik yang tergolong ke dalam sifat Jamaliyyah maupun yang tergolong ke dalam sifat Jalâliyyah. Kedua kelompok Asma` al-Husna ini perlu dijadikan wirid ddzikir dan doa dalam kehidupan kita sehari-hari agar sifat-sifat Allah tersebut dapat diserap oleh quwwat al-dzawqiyyah (kecerdasan emosi) dan quwwat al-ruhiyyah (kecerdasan spiritual) kita.

Kedua, orang beriman yang sering menyebut dan memanggil Tuhan melalui Asma` al-Husna diharapkan dapat mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Tuhan. Apabila proses internalisasi nama-nama Allah sudah masuk ke dalam kesadaran seorang hamba, maka sifat, karakter, dan perbuatan hamba tersebut akan mencerminkan akhlak Allah. Bagi orang beriman, Allah dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam menyikapi berbagai persoalan kemanusiaan yang terkadang membingungkan dan penuh tanda tanya besar.

Hal ini tidak berarti bahwa manusia dapat menirukan sifat dan perbuatan Allah secara penuh dan total sehingga sifat dan perbuatannya sama sebangun dengan sifat dan perbuatan Allah. Ada beberapa persoalan mendasar yang perlu dipahami dengan sebaik-baiknya.
Pertama, Allah memiliki sifat Kamaliyyah yakni kemaha sempurnaan, sedangkan manusia memiliki sifat kekuarangan. Oleh karena itu, suatu hal yang mustahil secara aqli, manusia dapat menirukan sifat dan perbuatan Allah secara penuh dan total.
Kedua, manusia memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain dalam hal kemampuan dan kesiapan (al-isti‘dad) untuk mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Allah.
Ketiga, manusia memiliki kemampuan untuk menyempurnakan secara terus menerus proses internalisasi kalimat Allah di dalam dirinya, mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Allah. Dengan demikian, maka perjalanan ruhani setiap orang yang beriman, berilmu, dan beramal akan mengalami takammulat, yakni proses terus menerus menuju kepada kesempurnaan sepanjang hidupnya.
Keempat, manusia yang satu dengan manusia yang lain memiliki sifat tafâdhul, yakni kelebihan-kelebihan tersendiri sehingga memungkinkan terjadinya kompetisi dalam menyerap dan menirukan sifat dan perbuatan Allah.
Kelima, kemampuan dan kesiapan (al-isti‘dad), takammulat, yakni proses terus menerus menuju kepada kesempurnaan, serta kompetisi dalam menyerap dan menirukan sifat dan perbuatan Allah tergantung kepada kualitas kalbu setiap orang beriman. Apabila seorang memperbaiki kualitas iman, memperbaiki kualitas amal, meningkatkan kualitas komunikasinya dengan Allah, meningkatkan kualitas pelayanan dan kualitas silaturahmi kepada sesama manusia, serta melakukan tahapan-tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dengan sebaik-baiknya, maka kalbu orang itu akan menjadi putih, bersih, jernih, bening, dan bercahaya sehinga lebih banyak meyerap sifat dan perbuatan Allah, memahaminya secara mendalam, dan memantulkan kemabali sifat dan perbuatan Alah di dalam sikap dan perilakunya kepada sesama umat manusia.

Aplikasi Sifat dan Af ‘al Allah dalam Kehidupan
Sifat dan perbuatan Allah terpadu secara simponi di dalam al-Asma` al-Husna (nama-nama-Nya yang indah) sebagaimana telah disebutkan di atas. Manusia banyak yang namanya indah, tetapi sifat dan perbuatannya tidak mencerminkan keindahan namanya. Seorang yang bernama Hasan (baik atau indah), tidak selalu memiliki sifat dan perbuatan yang baik atau indah. Lain halnya dengan Allah. Dia Tuhan yang bernama dan bersifat al-Rahman (Yang Maha Pengasih), maka perbuatan-Nya adalah mengasihani seluruh makhluk-Nya dengan kasih sayang yang sempurna. Allah senantiasa memberikan kepada manusia apa yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya sebelum manusia mampu mengajukan permohonan kepada Allah, bahkan jauh sebelum manusia dapat menyusun daftar kebutuhan di dalam hidupnya. Allah memberikan hidup kepada manusia dengan cuma-cuma, sebelum manusia mengetahui indahnya hidup. Allah membekali hidup manusia dengan berbagai fasilitas yang sangat berharga.

Pertama, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-fikriyyah, yakni kekuatan, kemampuan atau kecerdasan untuk berfikir yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan intelek (IQ) sehingga manusia dapat mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan di sekitarnya. Manusia dapat mengenal dirinya, lingkungannya, alam semesta, dan jagat raya. Hidup manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dan dikembangkan secara terus menerus melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman menjadi mudah karena pengenalannya terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Kedua, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-dzawqiyyah yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan emosi (EQ) yakni kekuatan, potensi atau kemampuan untuk mengembangkan rasaning rasa kemanusiaan yakni kepekaan dan kesadaran tentang dirinya sebagai hamba Allah; kepekaan dan kesadaran tentang dirinya sebagai makhluk sosial; serta kepekaan dan kesadaran tentang vissi dan missi hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Ketiga, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-ruhiyyah yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan spiritual (SQ) yakni kekuatan, potensi atau kemampuan untuk merasakan dan menghayati jejak-jejak Tuhan di dalam hidup ini. Manusis memilikik modal, potensi, dan kemampuan untuk berhubungan secara langsung, personal, dan spesial dengan Tuhan. Kekuatan ruhaniah yang ada di dalam dirinya dapat dikembangkan untuk menghayati dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dalam Surat al-Anfal ayat 2 dinyatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang percaya kepada Allah, apabila Allah atau nama-nama Allah disebut, maka kalbunya gemetar karena merasakan kedekatan Allah dengan manusia dan menghayati kehadiran-Nya di dalam kehidupan ini. Apabila ayat-ayat Allah dibacakan, maka keimanannya kepada Allah bertambah kuat. Demikian juga pegangannya kepada Allah di dalam hidup ini bertambah kokoh”.
Dia Tuhan yang bernama dan bersifat al-Sattar (Yang Maha Menutupi), maka perbuatan-Nya adalah menutupi aib seluruh makhluk-Nya dengan cara yang sempurna. Ada beberapa contoh perbuatan Allah yang sengaja menutupi berbagai keadaan di dalam diri manusia sehingga manusia merasakan kenikmatan dan kenyamanan di dalam hidupnya. Pertama, Allah sengaja menjadikan kulit manusia tidak transparan seperti tabung kaca, tetapi menutupi bagian dalam tubuh kita. Sekiranya kulit manusia seperti kaca, maka kita dapat melihat darah yang mengalir pada tubuh kita. Kita pun dapat melihat berbagai anatomi tubuh dengan jelas dan menyaksikan bagaimana organ tubuh bagian dalam bekerja. Isi perut dapat dilihat dengan transparan Berbagai makanan yang sudah bercampur dan mengalir didalam usus dapat kita lihat dengan terbuka. Tentu kita merasa jiji melihat tubuh kita sendiri, apalagi melihat tubuh orang lain. Kita tidak dapat bergaul dan bersahabat dengan orang lain, karena terganggu oleh tubuhnya yang transparan.

Oleh karena itu, perbuatan Allah menutupi tubuh kita dengan kulit merupakan kenikmatan tersendiri bagi manusia. Tubuh manusia terlihat indah karena tertutup oleh kulit yang halus dan mempesona. Kita mengetahui apa dan bagaimana bagian dalam tubuh manusia melalui pelajaran ilmu hayat yang sekarang dinamakan biologi atau melalui gambar-gambar alat peraga di Fakultas Kedokteran, tetapi kita tidak dapat melihatnya secara langsung sehingga pemandangan kita di dalam kehidupan sehari-hari tidak terganggu. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi di dalam kehidupan ini, jika Allah tidak memiliki sifat dan nama al-Sattar yang pekerjaan-Nya menutupi aib hamba-hamba-Nya.

Kedua, sengaja Allah menciptakan mekanisme lupa di dalam diri manusia. Berbagai memori di dalam hidup manusia disimpan dengan rapi, tetapi kita tidak dapat mengakses seluruhnya dengan baik. Banyak pengalaman, kejadian, dan berbagai peristiwa di dalam hidup yang tidak dapat diingat kembali dengan sempurna. Kenyataan ini membawa manfaat yang besar di dalam hidup manusia. Sekiranya kita dapat mengingat berbagai peristiwa, pengalaman, dan kejadian di masa lalu secara keseluruhan dengan lengkap, tentu hidup kita akan terganggu oleh memori di masa silam yang tidak menyenangkan. Kita tidak akan dapat tidur dengan nyenyak. Hidup kita akan mengalami kegelisahan-kegelisahan yang dahsyat karena pengalaman pahit yang mengerikan. Manusia akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Sudah dapat dipastikan bahwa hal ini merupakan gangguan kejiawaan yang besar. Secara sosial, hidup dengan mengakses terhadap seluruh peristiwa, pengalaman, dan kejadian di masa lalu secara keseluruhan, terutama pengalaman pahit yang mengerikan, akan menjadikan hidup ini terasa sempit. Kita tidak dapat bergaul dengan nyaman, karena terganggu oleh pengalaman buruk yang dapat diingat dengan detil.

Allah tidak menghendaki kesulitan di dalam hidup ini. Oleh karena itu, sengaja Allah menciptakan mekanisme lupa di dalam diri manusia dengan menutup memori itu sehingga tidak dapat diakses seluruhnya. Allah memang al-Sattar (Yang Maha Menutupi) sehingga manusia merasakan keindahan dan kenyamanan di dalam hidup ini. Lupa terhadap seluruh memori merupakan masalah tersendiri, tetapi dapat mengingat sebagian dan luapa terhadap sebagian lain merupakan kenikmatan tersendiri yang sengaja diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia.

Ketiga, Allah sengaja menciptakan suatu ruang di dalam diri manusia untuk merasahasiakan sesuatu kejadian, peristiwa, atau pengalaman di dalam hidup yang tidak pantas diketahui orang lain. Sekiranya Allah tidak menciptakan tempat yang rahasia dan tersembunyi di dalam diri manusia, serta tidak ada ruang yang tertutup, tentu kita kehilangan muka di depan orang banyak. Semua, dosa, noda, kekurangan, kecurangan, keculasan, kelicikan, keburukan, kejahatan, kedengkian, dan berbagai penyakit hati yang tersembunyi di dalam diri kita dapat diketahui orang lain dengan transparan. Allah Sattar al-‘uyub (Dzat Yang Maha Menutupi Aib hamba-hamba-Nya) dari pandangan manusia sehingga semua aib itu menjadi persoalan yang sanagt personal di antara hamba dengan Tuhan. Tidak ada yang mengetahui rahasia yang tersembunyi di dalam hati kecuali diri kita sendiri dengan Allah. Adapun bagi Allah tidak ada satu ruang kecil pun yang tertutup dari pantauan, pengawasan, dan pengetahuan-Nya.

Dengan mengucapkan al-Asma` al-Husna, nama-nama Tuhan yang berjumlah sembilan sepuluh sembilan; memahami maknanya; mendalami kandungan filosofinya; merasakan keindahan asma` Allah, meresapkan pancaran kasih sayang dan kelembutan-Nya, dan menghayati kehadiran dan kedekatan-Nya dengan manusia seperti menghayati sifat al-Rahman dan al-Rahimnya Allah, maka seorang hamba yang beriman akan lebih mengenal eksistensi dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia, dan alam sekitarnya. Ketiga potensi, kekuatan, kemampuan, atau kecerdasan yang terpendam di dalam dirinya, yakni quwwah al-fikriyyah atau kecerdasan intelek (IQ), quwwah al-dzawqiyyah atau kecerdasan emosi (EQ), dan quwwah al-ruhiyyah atau kecerdasan spiritual (SQ) secara garis dapat dikembangkan dan diaktualisasikan secara terus menerus dengan iman, ilmu, dan amal, tetapi secara khusus ketiga kecerdasan tersebut dapat diaktualisasikan dengan senantiasa ddzikir lisan dan ddzikir kalbu secara seksama dan simponi di dalam kehidupan sehari-hari.

Menyadari bahwa perbuatan Allah tercermin di dalam nama-nama-Nya yang indah (al-Asma` al-Husna) seperti al-Rahman dan al-Sattar, menurut hemat penulis, seorang insan yang beriman tentu akan berusaha merealisasikan nilai-nilai edukatif dan nilai-nilai filosofis al-Rahman dan al-Sattar di dalam kehidupan ini. Ia akan memantulan kasih kepada seluruh ummat manusia secara universal, tanpa membeda-bedakan agama, suku bangsa, ideologi, dan status sosial. Demikian juga dengan menghayati Tuhan al-Sattar, seorang hamba yang beriman akan berusaha memanfaatkan kesempatan dan peluang emas kebaikan Allah menutup aib hamba-hamba-Nya dengan bertobat dari berbagai dosa dengan tobat nasuha. Pada waktu yang sama ia pun akan membersihkan berbagai noda dan dosa akibat penyakit hati yang dideritanya dengan tindakan yang terencana, terpadu, dan terprogram dengan baik. Ia pun menyadari bahwa tindakan Tuhan menutupi aib hamba-hamba-Nya sebagaimana dipaparkan di atas ada batasnya. Di dalam Al-Qur`an Allah menyatakan: “Pada hari ketika semua rahasia manusia dibuka dengan seluas-luasnya. Pada hari itu bagi manusia tidak ada kekuatan dan pertolongan (untuk menutupi rahasia yang memalukannya)”. (Q.S. al-Thariq/86: 9-10) Hal ini terjadi pada hari kiamat, apabila ia selama hidup di dunia tidak bertobat dari dosa-dosanya dan tidak membersihakannya dengan sebaik-baiknya.

Ringkasnya, orang-orang beriman yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan memanggil dan menyebut nama Allah melalui wirid al-Asma` al-Husna secara rutin, serta diikuti dengan langkah-langkah berikut akan lebih mengenal dirinya. Pertama, berusaha memahami dan merasapkan filosofi sifat dan perbuatan Allah sebagaimana tercermin di dalam al-Asma` al-Husna. Kedua, melakukan tahapan-tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dengan sebaik-baiknya. Ketiga, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terus menerus mengidentikan diri kita dengan sifat dan karakter Allah dalam kehidupan ini. Keempat, melakukan evaluasi diri secara kritis dengan melakukan otokritik yang tajam serta senantiasa memperbaikinya dengan seksama. Kelima, bersedia mendengar saran, nasihat, dan kritik siapa pun tentang diri kita dengan kejujuran. Keenam, senantiasa meningkatkan komunikasi personal dengan Allah melalui doa dan munajat di tengah malam. Maka insya Allah, siapa pun di antara orang beriman yang melakukan kiat-kiat ini dengan sebaik-baiknya akan lebih terbuka untuk mengenal dirinya sekaligus mengenal Tuhannya. Melalui sifat dan perbuatan Allah sebagaimana tercermin di dalam al-Asma` al-Husna seorang hamba yang beriman dapat mengenal dirinya dan meningkatkan kualitas iman dan amal salehnya kepada sesama umat manusia dengan sifat dan karakter yang lebih mulia. Wa Allah a‘lam bi al-shawab.

---(ooo)---
Dr. Asep Usman Ismail, MA Penulis adalah dosen Ilmu Tasawuf pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pengamal Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, tinggal di Ciputat