Kamis, 26 Maret 2009

Dunia Wali

Ibnu Araby Tentang Khatamul Auliya'
Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’). Ibu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi:

Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?
Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.

Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan 3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta.
Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H.
Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.

Dunia Wali

Ibnu Araby Tentang Khatamul Auliya'
Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’). Ibu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi:

Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?
Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.

Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan 3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta.
Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H.
Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.

Mulailah Dari Dirimu

Syeikh Jalaluddin Rumi
Rumi berkata: Siapa nama anak muda itu ? Seseorang menjawab: “Syaifuddin (PedangAgama)”.

Rumi berkata: Tak seorang pun menilai sebuah pedang sedangkan la masih berada di dalam sarungnya. Sesungguhnya, Pedang Agama adalah seseorang yang mempertahankan sang jalan, mempersembahkan kerja keras mereka sepenuhnya kepada Allah, yang mengungkap kebenaran dari kesalahan dan membedakan yang hak dari yang batil. Tetapi terlebih dahulu mereka mengoreksi diri dan memperbaiki sifat mereka sendiri: “Mulailah dari dirimu sendiri,” kata Nabi.

Jadi mereka mengarahkan seluruh kedisiplinan mereka kepada diri sendiri, seraya berkata, “Pada akhirnya, aku juga seorang manusia. Aku memiliki tangan dan kaki, telinga dan pemahaman, mata dan mulut. Para nabi dan wali yang mencapai ridha Allah dan, mencapai tujuan mereka-mereka adalah manusia seperti diriku dengan akal, lidah, tangan dan kaki. Mengapa mereka ditunjukkan ke jalan itu? Mengapa pintu ini yang terbuka bagi mereka, tertutup untukku?” Orang semacam itu mengoreksi diri siang malam, dan berjuang, seraya berkata, “Apa yang aku lakukan, sehingga aku tidak diterima?” Mereka terus mencari sampai mereka menjadi Pedang Allah dan Lidah Kebenaran.

Misalnya, sepuluh orang memasuki sebuah rumah. Sembilan menemukan jalan itu, tetapi yang satu tetap berada di luar dan tidak diizinkan masuk. Tentu saja orang ini menengok batinnya dan meratap, seraya berkata, “Apa yang telah aku lakukan sehingga aku tetap berada di luar? Sikap-sikap apa yang membuatku bersalah?” Orang itu menghubungkan kesalahan itu kepada dirinya sendiri dan mengakui kesalahan dan keburukan sikap mereka. Mereka tidak akan pernah berkata, “Allah telah melakukannya kepadaku, apa yang bisa aku lakukan? Atas kehendak Allah-lah ini terjadi. Jika Allah memang menghendakinya, tentu saja aku akan ditunjukkan ke jalan itu.” Kata-kata semacam itu sangat menyelewengkan Allah dan menghunuskan pedang melawan Allah. Orang semacam itu akan menjadi Pedang Melawan Allah dan bukan Pedang Allah.

Allah berada jauh dari memiliki keluarga dan kawan. “Dia tidak pernah lupa, dan belum pernah dilupakan,” kata al-Qur’an. Kamu tidak dapat mengatakan bahwa mereka yang telah menemukan jalan menuju Allah lebih menjadi sanak Allah, lebih kawan-Nya ataupun lebih erat berhubungan dengan-Nya. Tak seorang pun pernah berdekatan dengan Allah kecuali dari bawah.

Allah sangat berkecukupan, Kamulah orang-orang yang membutuhkan.
Berdekatan dengan Allah tidak pernah dicapai, kecuali melalui pengabdian dan kepasrahan. Dia adalah Maha Pemberi. Dia memenuhi baju lautan dengan batu-batu mulia, Dia membungkus onak dalam hiasan mawar, Dia memberkati kehidupan dan ruh di atas segenggam debu, segalanya tanpa pendahulu, semua tanpa pembedaan. Seluruh dunia menerima bagian mereka dari-Nya.

Ketika orang-orang mendengar tentang seorang yang dermawan yang membagi-bagi hadiah dan pertolongan yang sangat berharga, umumnya mereka ingin berkunjung kepada seorang pemberi harta semacam itu, dengan harapan akan menerima satu bagian dari pemberian itu. Karena Keagungan Allah begitu terkenal di seluruh dunia, mengapa tidak kamu memohon saja kepadaNya? Mengapa tidak kamu meminta kepada-Nya jubah jubah kehormatan, atau hadiah yang mewah? Malah, kamu duduk dengan jumud sambil berkata, “Jika memang Dia menginginkannya, Dia bisa memberikannya kepadaku.” Jadi, kamu tidak pernah meminta apa pun kepada-Nya.

Seekor anjing, tanpa akal atau pemahaman, ketika lapar, datang kepadamu dan mengibaskan ekornya seolah-olah hendak berkata, “Beri aku makanan. Aku lapar pada makanan yang kamu punyai. Tolong beri aku sedikit saja.” Seekor anjing tahu itu... Apakah kamu lebih bodoh dari anjing? Anjing tidak puas untuk tidur malas-malasan dan berkata, “Jika dia mau, dia akan memberikan makanan itu kepadaku,” tetapi memohon dan mengibaskan ekornya. Jadi, hendaknya kamu mengibaskan ekormu dan memohon kepada Allah, karena di hadapan Sang Pemberi itu, memohon adalah ungkapan hasrat yang mengagumkan. Jika kamu kekurangan harta, mintalah kepada Dzat Yang tidak kikir, dan penjaga kekayaan yang besar.
Allah selalu dekat denganmu. Setiap pikiran dan gagasan yang kamu pahami, di situ ada Allah - karena Allah memberi wujud kepada gagasan dan pikiran itu. Tetapi Allah begitu dekat sehingga kamu tidak bisa melihat-Nya. Apa yang aneh? Dalam setiap perbuatan yang kamu lakukan, akal membimbingmu dan mengawali tindakanmu, tetapi kamu tidak melihat akalmu. Kamu melihat efeknya, tetapi kamu tidak bisa melihat esensinya. Misalnya orang pergi mandi. Kemana pun mereka pergi di dalam bak mandi, mereka merasakan panasnya api, meskipun mereka tidak melihat api itu. Ketika mereka meninggalkan bak itu, maka mereka melihat api dan nyalanya yang sesungguhnya. Dari sini, mereka mengetahui bahwa panas bak mandi berasal dari sebuah api.
Manusia juga merupakan sebuah bak raksasa, dan di dalam dirinya bersemayam panas akal, ruh dan keakuan yang rendah. Tetapi ketika kamu meninggalkan bak ini dan memasuki dunia yang lain, kamu melihat esensi-esensi yang sesungguhnya. Maka kamu mengetahui bahwa kecerdasan berasal dari pancaran akal, bahwa penyimpangan dan pretensi memancar dari keakuan yang rendah, dan denyut kehidupan itu sendiri adalah hasil dari ruh. Kamu dapat dengan jelas melihat esensi-esensi ketiganya, tetapi sepanjang kamu berada di dalam bak, ketiga esensi itu tak terlihat. Kamu hanya dapat mengalami efeknya.

Ketika kita berada di Samarkand, Khwarizmsyah bergegas menuju Samarkand dan mengadakan penyerangan bersama balatentaranya. Tidak jauh dari kita hiduplah seorang gadis yang sangat cantik, begitu cantiknya sehingga tak seorang pun dapat menyamainya di seluruh penjuru kota. Aku mendengarnya berkata, “Oh Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkanku jatuh ke tangan para pembuat dosa. Aku tahu Engkau tidak pernah mengizinkan itu. Aku pasrah kepada-Mu, Ya Allah.”

Ketika kota dikalahkan dan seluruh penduduknya dijadikan tawanan, bahkan para pelayan wanita gadis itu pun ditangkap. Tetapi gadis itu dibiarkan saja. Karena seluruh kecantikannya, tak seorang lelaki pun tahan untuk menatapnya. Dari sini, ketahuilah bahwa siapa pun yang memasrahkan diri kepada Allah akan tetap aman dari marabahaya dan selamat. Tak satu pun permohonan manusia di hadapan Allah itu diabaikan. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah, dan tuntutlah apa yang kamu butuhkan dari Allah, karena permohonanmu tidak akan sia-sia.
“Panggilah Aku dan Aku akan menjawabmu.”

Seorang darwis mengajarkan kepada anak laki-lakinya bahwa apa pun yang dia butuhkan, “Mintalah kepada Allah.” Bertahun-tahun berlalu. Suatu hari, ketika anak itu sendirian di dalam rumah, dia menjadi lapar. Seperti biasanya dia berkata, “Aku lapar, aku ingin makan.” Tiba-tiba semangkuk bubur muncul, dan anak itu memakannya sampai kenyang. Ketika ayah dan ibunya pulang, mereka berkata, “Tidakkah kamu lapar?” Sang anak menjawab, `Aku hanya meminta makanan dan melahapnya.” Ayahnya berkata, “Terpujilah Allah, keimanan dan kepasrahanmu kepada Allah telah tumbuh kuat.”

Ketika Maryam dilahirkan, ibunya bersumpah akan mempersembahkan Maryam kepada Rumah Allah dan tidak menyokongnya. Dia meninggalkan Maryam di sebuah Kuil. Zakaria kemudian merawat anak itu, tetapi semua orang menginginkannya juga. Pada zaman itu, jika ada kelompok yang bertentangan, maka sebuah tongkat harus dilemparkan ke dalam air-orang yang tongkatnya mengambang paling lama dialah yang berhak. Demikian terjadilah pada tongkat Zakaria yang mengambang paling lama. Mereka semua setuju bahwa dia memiliki hak untuk merawat Maryam. - Jadi, setiap hari Zakaria membawa makanan kepada anak itu, tetapi : dia selalu menemukan pasangan makanan yang sama di samping `anak itu. Dia berkata, “Maryam, aku bertanggung jawab kepadamu. Dari mana asal makanan ini?” Maryam menjawab, “Kapan saja aku membutuhkan makanan, aku memohon kepada Allah dan Dia mengirimkannya kepadaku. Karunia dan kasih sayangnya tanpa batas. Siapa pun pasrah kepada-Nya, kepercayaannya tidak akan sia-sia.”

Sekarang, setelah Zakaria menyadarinya dia berdoa, “Ya Allah, karena Engkau memenuhi kebutuhan anak ini, tolong kabulkan keinginanku. Berilah aku anak laki-laki yang kelak akan menjadi kawan-Mu, yang, tanpa enggan, akan berjalan bersama-Mu dan khusyuk dalam kepatuhan kepada-Mu.” Allah menghidupkan Ismail, meskipun ayahnya tua dan lemah, sedangkan ibunya sangat tua dan belum pernah melahirkan seorang anak pun ketika masih muda. Tetapi, dia hamil dan melahirkan anak itu.

Tidakkah kamu lihat bahwa semua ini tidak lain adalah bukti atas kemahakuasaan Allah? Segala sesuatu berasal dari-Nya, dan kehendak-Nya pasti akan terlaksana. Orang beriman tahu bahwa di balik dinding ada Dzat Yang mengenal setiap keadaan dalam kehidupan kita, satu demi satu, dan yang melihat kita meskipun kita tidak melihat-Nya. Tetapi mereka yang berkata, “Tidak, ini hanyalah sebuah kisah,” mereka tidak dapat mempercayainya. Saatnya akan tiba ketika mereka akan menyadari kesalahan mereka.

Misalnya, kamu sedang bermain petak umpet. Sekalipun kamu tidak melihat siapa pun, jika kamu tahu orang-orang berada di balik dinding sambil mendengarkan, kamu akan terus bermain, karena kamu adalah seorang pemain petak umpet. Pada akhirnya, tujuan shalat bukanlah berdiri, ruku’ dan sujud sepanjang hari, karena saat-saat kesatuan spiritual yang kamu miliki dalam shalat hendaknya selalu bersamamu. Baik ketika tidur atau terjaga, menulis atau membaca, kamu hendaknya tidak jauh dari mengingat Allah.

Berbicara dan membisu, tidur dan terjaga, marah dan mema`afkan semua sifat ini hendaknya seperti bergulirnya kincir air. Tentu saja kincir berputar karena air, dan la tahu ini, karena ia telah mencoba untuk bergerak tanpa air. Kincir mana pun yang percaya bahwa la adalah sumber perputarannya sendiri adalah sifat kebodohan dan kejumudan.

Sekarang perputaran ini terjadi di dalam sebuah ruang yang sempit, karena itulah sifat dunia materi ini. Oleh karena itu, berkatalah kepada Allah, “Ya Allah, anugerahkan kepadaku perputaran lain yang bersifat spiritual, karena semua kebutuhanku telah Engkau penuhi.” Oleh karena itu, bawalah kebutuhan-kebutuhanmu kepada-Nya segera, dan jangan pernah sekalipun melupakan-Nya, karena mengingat-Nya adalah kekuatan, bulu dan sayap bagi seekor burung jiwa.

Melalui pengingatan kepada Allah, sedikit demi sedikit hati ruhaniah menjadi teriluminasi dan terlepas dari dunia materi. Sebagaimana seekor burung yang mencoba untuk terbang ke langit, meskipun la tidak pernah berhasil mencapai tujuan itu, tetapi setiap saat la terbang menjauh dari bumi dan memanggil burungburung yang lain. Atau misalnya, bebauan menyergap dari dalam sebuah kaleng, tetapi mulut kaleng itu terlalu kecil, dan ketika kamu mencapai di dalamnya kamu tidak bisa membuang bebauan itu. Sebaliknya, tanganmu wangi dan hidungmu penuh dengan aroma itu.

Jadi dengan mengingat Allah-lah: meskipun di saat ini kamu tidak mencapai Esensi Allah, tetapi kamu meninggalkan jejaknya padamu, dan kamu mendapatkan keuntungankeuntungan besar yang dimunculkan dari jejak itu.

---(ooo)---

Minggu, 22 Maret 2009

Perancangan Allah Itu Yang Terbaik...

Jangan bersedih... Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, hambaNya... Kita diuji mengikut tahap keimanan seseorang... Walaupun perit... Namun kadang-kadang yang perit itulah penawar yang terbaik...

Buat Menteri Besar Perak, Datuk Seri Ir Mohd Nizar Jamaluddin ini ujian besar dari Allah... Kuatkan semangat... Tiada apa yang perlu digusarkan... kerana perancangan Allah itulah yang terbaik... Yakin dengan janji Allah bahawa Dia akan bantu sesiapa sahaja yang membantu agamaNya... Biar kita turun dengan bermaruah... Bukan kemenangan matlamatnya... Namun redha Allah yang kita cari....

Jangan bersedih... Sesungguhnya Allah bersama-sama kita...

Jumat, 20 Maret 2009

Mengenal Diri Melalui Sifat Dan Af'al Allah

Mengenal Diri Melalui Sifat Dan Af'al Allah

Dalam sebuah hadis yang cukup populer di kalangan kaum Sufi dinyatakan bahwa: “Man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah”, (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh mengenal Tuhannya). Hadis populer ini mengisyaratkan bahwa pengenalan diri merupakan suatu yang penting dilakukan, karena dengan pengenalan diri berarti membuka sambungan untuk mengenal Tuhan. Pengenalan diri dapat dilakukan dengan melakukan tiga tahapan penyempurnaan diri yang di dalam tasawuf dinamakan takhalli, tahalli, dan tajalli.

Tahapan pertama takhalli. Perkataan takhalli secara bahasa berarti proses pengosongan. Istilah ini di dalam tasawuf mengandung penegertian mengosongkan diri dari berbagai penyakit hati. Pengosongan diri mengandung arti pembersihan dan penyempurnaan diri atau jiwa kita. Ada beberapa tahap pembersihan diri dan penyempurnaannya. Pertama, membersihakan diri dengan memurnikan keyakinan dari kemusyrikan, yakni tindakan, perkataan, dan keyakinan yang menjurus kepada menyekutukan Allah. Semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah, beramal saleh, dan membenarkan para Rasul, menurut ‘Abd al-Fattah ‘Abd Allah, barakah termasuk ke dalam kelompok ahl al-tawhid (orang yang bertauhid). Dengan memurnikan keyakinan dari kemusyrikan berarti memurnikan tauhid kepada Allah, dan dengan demikian ahl al-tawhid memperoleh anwar al-mahabbah (cahaya cinta) yang disebabkan oleh tauhidnya kepada Allah; namun, jiwanya masih tetap dikuasai oleh berbagai dorongan rendah.
Kedua, membersihkan diri dengan menyembuhkan berbagai penyakit hati yang di dalam tasawuf dinamakan tazkiyat al-nafs (pembersihan jiwa). Pembersihan diri dari berbagai penyakit kalbu harus berpangkal dari adanya kesadaran bahwa suasana keruhaniahan kita diselimuti oleh dosa-dosa dan maksiat yang melekat pada diri kita, serta ada kesungguhan untuk membersihkannya. Di antara amaliah ketasawufan yang tergolong ke dalam tahapan takhalli adalah: Taubat secara benar dan konsisten; memperbanyak membaca istihgfar dengan menghayati maknanya secara mendalam; serta memperbanyak berddzikir kepada Allah baik secara lisan maupun secara khafi (tersembunyi) di dalam kalbu.

Tahapan kedua, tahalli. Perkataan tahalli secara bahasa berarti proses menghiasi atau memperindah sesuatu. Adapun yang dimaksud dengan tahalli dalam tasawuf adalah menghiasi atau memperindah jiwa kita dengan kesucian. Dari jiwa atau hati yang suci akan memancar akhlak mulia, dalam hubungan dengan Allah, maupun dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta. Ada beberapa hal penting yang perlu dibiasakan di dalam hidup agar kita dapat melakukan tahalli yakni menghiasi atau memperindah diri, jiwa, atau hati dengan upaya-upaya sebagai berikut:
Pertama, melatih diri untuk merasakan kefakiran. Istilah kefakiran merupakan istilah Al-Qur`an. Perkataan fakir atau kefakiran berasal dari kata kerja di dalam bahasa Arab faqara yang berarti: membutuhkan. Dari kata kerja faqara kemudian terbentuk kata sifat faqir dalam bentuk tunggal yang berarti seorang yang membutuhkan, dan fuqara` dalam bentuk jamak yang berarti orang-orang yang membutuhkan. Istilah ini di dalam Al-Qur`an digunakan dalam dua katagori, katagori ekonomi dan katagori eksistensial. Secara ekonomi istilah faqir atau fuqara mengandung pengertian seorang atau sekelompok orang yang penghasilan hariannya tidak mencukupi kebutuhan fisik minimumnya. Oleh karena itu lapisan masyarakat yang tergolong faqir atau fuqara membutuhkan bantuan finansial, modal usaha, atau keterampilan kerja untuk mengembangkan tarap hidupnya yang wajar. Kaum Muslimin yang tergolong faqir atau fuqara ini berhak menerima zakat, infaq, dan shadaqah dari sesama kaum Muslimin yang mampu sebagai bentuk solidaritas sosial di antara saudara seiman.

Sementara itu istilah faqir atau fuqara dilihat dari eksistensi manusia di hadapan Allah mengandung pengertian bahwa manusia secara universal membutuhkan Allah. Pada hakekatnya tidak ada seorang atau sesuatu pun di antara makhluk Tuhan ini yang tidak membutuhkan Allah. Keberadaannya sangat tergantung kepada eksistensi Allah. Manusia membutuhkan kasih sayang, rahmat, pertolongan, perhatian, bimbingan, petunjuk, ampunan, kerelaan, cinta, dan kedekatan kepada Allah. Faqir atau fuqara dalam pengertian ini ditegaskan di dalam Al-Qur`an sebagai berikut: “Wahai seluruh umat manusia, kalian membutuhkan Allah; sedangkan Allah, Dia itu Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Fâthir: 15)
Ketika para sufi mengembangkan gaya hidup yang penuh dengan kefakiran; maka yang dimksud bukanlah kefakiran dalam katagori sosial ekonomi, melainkan kefakiran secara eksistensial. Mereka mengajak kaum Muslimin untuk menyadari eksistensi diri kita sebagai hamba dalam berhubungan dengan Allah, Sang Maha Pencipta. Dengan mengembangkan kesadaran kefakiran, maka akan tertolak di dalam diri kita perasaan istaghna merasa cukup dengan akal budi, kecerdasan, pengalaman, intuisi, dan materi, pangkat, wibawa, kharisma, pengaruh, dan jabatan yang sudah dimiliki sehingga tidak membutuhkan dan tidak perlu melibatkan Tuhan dalam kehidupan ini. Manusia yang bersikap istaghna terhadap Allah dikecam oleh Al-Qur`an sebagai berikut: “Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang baik; maka kelak Kami (Allah) akan menyiapkan baginya kehidupan yang sukar”. (Q.S. 92: 8-10) “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; karena dia memandang dirinya serba cukup Sesungguhnya hanya kepada Allah, Tuhanmu, kamu akan mudik (Q.S. 96: 6-8)

Kedua, melatih diri untuk merasakan, memupuk, dan mengembangkan kesabaran. Perkataan shabr dalam Al-Qur`an mengandung pengertian: keteguhan hati, kekokohan mental, keuletan, dan daya tahan yang tangguh. Shabr termasuk mentalitas para utusan Allah (Q.S. 46: 35). Orang-orang beriman dipesan agar memiliki mental shabr sebagaimana para Rasul Allah (Q.S. 3: 200) serta dipesan untuk saling mewasiatkan kepada kesabaran. (Q.S. 90: 17 dan Q.S. 103: 3). Sebab kesabaran itu indah (Q.S. 12:18 dan 83). Shabr pun merupakan media untuk memperoleh pertolongan Allah dan merasakan kekhusyuan dalam shalat. (Q.S. 2: 45 dan 153).

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 1166 M./561 H.) membagi shabr dalam tiga tingkatan: Pertama, shabr untuk Allah, yakni keteguhan hati dan kekuatan mental dalam melaksanakan segala perintah Allah dan dalam menjauhi segala larangan. Kedua, shabr bersama Allah, yaitu keteguhan hati dan kekuatan mental di dalam menerima kesagala ketentuan Allah yang diberlakukan kepada hamba-hamba-Nya. Ketiga, kesabaran atas Allah, yaitu keteguhan hati dan kekuatan mental terhadap apa yang dijanjikan Allah, berupa rizki, kelapangan, kecukupan, pertolongan, yang akan diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh di dunia dan akhirat.
Kesabaran merupakan kunci kesuksesan. Untuk meraih karunia Allah yang besar, mendekatkan diri kepada-Nya, memperoleh kedudukan terhormat di sisi-Nya, meraih cinta-Nya, dan mengenal-Nya secara mendalam, bahkan merasakan bersatu bersama-Nya hanya dapat diraih melalui kesuksesan dalam maqâm shabr. Nabi bersabda: “Seorang hamba Allah tidak akan memperoleh suatu kebahagiaan, sebelum harta dan fisiknya diuji. Sebab Allah jika mencintai seorang hamba akan mengujinya dengan berbagai cobaan. Sebab itu jika Allah menguji betrsabarlah” (H.R. Tirmidzi)

Ketiga, merasakan kematian sebelum datangnya kematian. Hal ini bisa kita renungkan dari hadis qudsi yang memaparkan firman Allah kepada Nabi Daud sebagai berikut: “Apabila hambaku dikusai oleh kerinduan kepadaku dan menyibukkan hatinya dengan diri-Ku, maka Aku jadikan ketenteraman dan kenikmatannya dalam berddzikir kepada-Ku. Aku pun akan menjadikan dia senantiasa dalam kerinduan kepada-Ku. Aku akan mengangkat tirai yang menghalangi Aku dengan dia. Aku mencinatai dia dan dia mencintai-ku sehingga dia tidak pernah alpa ketika semua manusia alpa, dia tidak pernah lupa ketika semua manusia lupa, dia tidak pernah tergelincir ketika semua manusia tergelincir. Itulah orang-orang saleh yang sebenarnya”.

Tahapan ketiga, tajalli. Perkataan tajalli secara bahasa berarti proses penampakan. Adapun yang dimaksud tajalli di dalam tasawuf tiada lain adalah memancarnya sifat-sifat Allah yang terkandung di dalam Asma` al-Husna pada diri seorang hamba yang diperoleh setelah seorang merasakan cinta yang mendalam kepada Allah dan mengenal-Nya dengan pandangan hati, bukan dengan akal budhi dan pandangan lahir. Mahabbah dan ma’rifah dua hal yang bisa diperoleh setelah kalbu benar-benar dibersihkan dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil serta menghiasinya dengan akhlak terpuji secara istiqamah.

Sifat dan Af ‘al Allah
Sifat dan perbuatan atau af‘al Allah terangkun di dalam Asma` al-Husna yakni nama-nama Allah yang indah. Asma` al-Husna atau nama-nama Allah yang indah dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kelembutan, kesantunan, cinta dan kasih sayang. Kelompok nama-nama Allah yang demikian dinamakan sifat-sifat Jamâliyyah Allah. Para peneliti tasawuf seperti Suchiko Murata memahami sifat-sifat Jamâliyyah Allah sebagai sifat feminin yang senantiasa memancarkan kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Kedua, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kegagahan, kekuatan, dan keperkasaan. Kelompok nama-nama Allah yang demikian dinamakan sifat-sifat Jalaliyyah Allah. Suchiko Murata memahami sifat-sifat Jalaliyyah Allah sebagai sifat maskulin yang senantiasa memancarkan kekuatan, keteguhan, keadilan, hukuman, dan keperkasaan. Kedua kelompok sifat Allah yang tercermin di dalam Asma` al-Husna ini tidak saling bertentangan atau kontradiktif, tetapi terpadu secara simponi dalam kesempurnaan Allah yang tercermin pada sifat Kamaliyyah Allah.

Dari sembilan puluh sembilan Asma` al-Husna yang disebut di dalam Al-Qur`an tujuh puluh dua nama menggambarkan sifat-sifat kelembutan, cinta, dan kasih sayang Allah yang termasuk ke dalam kelompok sifat-sifat Jamaliyyah Allah; sedangkan yang tergolong ke dalam kelompok yang menggambarkan kegagahan, kekuatan, dan keperkasaan Allah hanya dua puluh tujuh sifat yang dinamakan sifat-sifat Jalaliyyah Allah. Komposisi Asma` al-Husna yang lebih banyak menggambarkan sifat-sifat feminin Allah, menurut hemat penulis, menggambarkan bahwa kasih sayang Allah mendahului murka-Nya sebagaimana disebutkan di dalam hadis qudsi “sabaqat ghadlabi rahmati” (rahmat-Ku mendahului murka-Ku).
Berkenaan dengan Allah dan nama-nama Allah atau Asma` al-Husna Rasulullah saw. mengingatkan kaum Muslimin dengan sabda beliau: “takhallaqû bi akhlaq Allah” (Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah). Sabda Rasulullah saw. ini mengandung beberapa pelajaran yang sangat berharga berkenaan dengan cara kita merespon sifat dan perbuatan Allah. Pertama, sebaiknya kita senantiasa menyebut dan memanggil Tuhan dengan Asma` al-Husna, baik yang tergolong ke dalam sifat Jamaliyyah maupun yang tergolong ke dalam sifat Jalâliyyah. Kedua kelompok Asma` al-Husna ini perlu dijadikan wirid ddzikir dan doa dalam kehidupan kita sehari-hari agar sifat-sifat Allah tersebut dapat diserap oleh quwwat al-dzawqiyyah (kecerdasan emosi) dan quwwat al-ruhiyyah (kecerdasan spiritual) kita.

Kedua, orang beriman yang sering menyebut dan memanggil Tuhan melalui Asma` al-Husna diharapkan dapat mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Tuhan. Apabila proses internalisasi nama-nama Allah sudah masuk ke dalam kesadaran seorang hamba, maka sifat, karakter, dan perbuatan hamba tersebut akan mencerminkan akhlak Allah. Bagi orang beriman, Allah dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam menyikapi berbagai persoalan kemanusiaan yang terkadang membingungkan dan penuh tanda tanya besar.

Hal ini tidak berarti bahwa manusia dapat menirukan sifat dan perbuatan Allah secara penuh dan total sehingga sifat dan perbuatannya sama sebangun dengan sifat dan perbuatan Allah. Ada beberapa persoalan mendasar yang perlu dipahami dengan sebaik-baiknya.
Pertama, Allah memiliki sifat Kamaliyyah yakni kemaha sempurnaan, sedangkan manusia memiliki sifat kekuarangan. Oleh karena itu, suatu hal yang mustahil secara aqli, manusia dapat menirukan sifat dan perbuatan Allah secara penuh dan total.
Kedua, manusia memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain dalam hal kemampuan dan kesiapan (al-isti‘dad) untuk mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Allah.
Ketiga, manusia memiliki kemampuan untuk menyempurnakan secara terus menerus proses internalisasi kalimat Allah di dalam dirinya, mengidentikan diri dan menyesuaikan sifat dan karakteristiknya dengan sifat dan karakter Allah. Dengan demikian, maka perjalanan ruhani setiap orang yang beriman, berilmu, dan beramal akan mengalami takammulat, yakni proses terus menerus menuju kepada kesempurnaan sepanjang hidupnya.
Keempat, manusia yang satu dengan manusia yang lain memiliki sifat tafâdhul, yakni kelebihan-kelebihan tersendiri sehingga memungkinkan terjadinya kompetisi dalam menyerap dan menirukan sifat dan perbuatan Allah.
Kelima, kemampuan dan kesiapan (al-isti‘dad), takammulat, yakni proses terus menerus menuju kepada kesempurnaan, serta kompetisi dalam menyerap dan menirukan sifat dan perbuatan Allah tergantung kepada kualitas kalbu setiap orang beriman. Apabila seorang memperbaiki kualitas iman, memperbaiki kualitas amal, meningkatkan kualitas komunikasinya dengan Allah, meningkatkan kualitas pelayanan dan kualitas silaturahmi kepada sesama manusia, serta melakukan tahapan-tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dengan sebaik-baiknya, maka kalbu orang itu akan menjadi putih, bersih, jernih, bening, dan bercahaya sehinga lebih banyak meyerap sifat dan perbuatan Allah, memahaminya secara mendalam, dan memantulkan kemabali sifat dan perbuatan Alah di dalam sikap dan perilakunya kepada sesama umat manusia.

Aplikasi Sifat dan Af ‘al Allah dalam Kehidupan
Sifat dan perbuatan Allah terpadu secara simponi di dalam al-Asma` al-Husna (nama-nama-Nya yang indah) sebagaimana telah disebutkan di atas. Manusia banyak yang namanya indah, tetapi sifat dan perbuatannya tidak mencerminkan keindahan namanya. Seorang yang bernama Hasan (baik atau indah), tidak selalu memiliki sifat dan perbuatan yang baik atau indah. Lain halnya dengan Allah. Dia Tuhan yang bernama dan bersifat al-Rahman (Yang Maha Pengasih), maka perbuatan-Nya adalah mengasihani seluruh makhluk-Nya dengan kasih sayang yang sempurna. Allah senantiasa memberikan kepada manusia apa yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya sebelum manusia mampu mengajukan permohonan kepada Allah, bahkan jauh sebelum manusia dapat menyusun daftar kebutuhan di dalam hidupnya. Allah memberikan hidup kepada manusia dengan cuma-cuma, sebelum manusia mengetahui indahnya hidup. Allah membekali hidup manusia dengan berbagai fasilitas yang sangat berharga.

Pertama, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-fikriyyah, yakni kekuatan, kemampuan atau kecerdasan untuk berfikir yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan intelek (IQ) sehingga manusia dapat mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan di sekitarnya. Manusia dapat mengenal dirinya, lingkungannya, alam semesta, dan jagat raya. Hidup manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dan dikembangkan secara terus menerus melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman menjadi mudah karena pengenalannya terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Kedua, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-dzawqiyyah yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan emosi (EQ) yakni kekuatan, potensi atau kemampuan untuk mengembangkan rasaning rasa kemanusiaan yakni kepekaan dan kesadaran tentang dirinya sebagai hamba Allah; kepekaan dan kesadaran tentang dirinya sebagai makhluk sosial; serta kepekaan dan kesadaran tentang vissi dan missi hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Ketiga, Allah membekali hidup manusia dengan quwwah al-ruhiyyah yang di dalam istilah psikologi disebut kecerdasan spiritual (SQ) yakni kekuatan, potensi atau kemampuan untuk merasakan dan menghayati jejak-jejak Tuhan di dalam hidup ini. Manusis memilikik modal, potensi, dan kemampuan untuk berhubungan secara langsung, personal, dan spesial dengan Tuhan. Kekuatan ruhaniah yang ada di dalam dirinya dapat dikembangkan untuk menghayati dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dalam Surat al-Anfal ayat 2 dinyatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang percaya kepada Allah, apabila Allah atau nama-nama Allah disebut, maka kalbunya gemetar karena merasakan kedekatan Allah dengan manusia dan menghayati kehadiran-Nya di dalam kehidupan ini. Apabila ayat-ayat Allah dibacakan, maka keimanannya kepada Allah bertambah kuat. Demikian juga pegangannya kepada Allah di dalam hidup ini bertambah kokoh”.
Dia Tuhan yang bernama dan bersifat al-Sattar (Yang Maha Menutupi), maka perbuatan-Nya adalah menutupi aib seluruh makhluk-Nya dengan cara yang sempurna. Ada beberapa contoh perbuatan Allah yang sengaja menutupi berbagai keadaan di dalam diri manusia sehingga manusia merasakan kenikmatan dan kenyamanan di dalam hidupnya. Pertama, Allah sengaja menjadikan kulit manusia tidak transparan seperti tabung kaca, tetapi menutupi bagian dalam tubuh kita. Sekiranya kulit manusia seperti kaca, maka kita dapat melihat darah yang mengalir pada tubuh kita. Kita pun dapat melihat berbagai anatomi tubuh dengan jelas dan menyaksikan bagaimana organ tubuh bagian dalam bekerja. Isi perut dapat dilihat dengan transparan Berbagai makanan yang sudah bercampur dan mengalir didalam usus dapat kita lihat dengan terbuka. Tentu kita merasa jiji melihat tubuh kita sendiri, apalagi melihat tubuh orang lain. Kita tidak dapat bergaul dan bersahabat dengan orang lain, karena terganggu oleh tubuhnya yang transparan.

Oleh karena itu, perbuatan Allah menutupi tubuh kita dengan kulit merupakan kenikmatan tersendiri bagi manusia. Tubuh manusia terlihat indah karena tertutup oleh kulit yang halus dan mempesona. Kita mengetahui apa dan bagaimana bagian dalam tubuh manusia melalui pelajaran ilmu hayat yang sekarang dinamakan biologi atau melalui gambar-gambar alat peraga di Fakultas Kedokteran, tetapi kita tidak dapat melihatnya secara langsung sehingga pemandangan kita di dalam kehidupan sehari-hari tidak terganggu. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi di dalam kehidupan ini, jika Allah tidak memiliki sifat dan nama al-Sattar yang pekerjaan-Nya menutupi aib hamba-hamba-Nya.

Kedua, sengaja Allah menciptakan mekanisme lupa di dalam diri manusia. Berbagai memori di dalam hidup manusia disimpan dengan rapi, tetapi kita tidak dapat mengakses seluruhnya dengan baik. Banyak pengalaman, kejadian, dan berbagai peristiwa di dalam hidup yang tidak dapat diingat kembali dengan sempurna. Kenyataan ini membawa manfaat yang besar di dalam hidup manusia. Sekiranya kita dapat mengingat berbagai peristiwa, pengalaman, dan kejadian di masa lalu secara keseluruhan dengan lengkap, tentu hidup kita akan terganggu oleh memori di masa silam yang tidak menyenangkan. Kita tidak akan dapat tidur dengan nyenyak. Hidup kita akan mengalami kegelisahan-kegelisahan yang dahsyat karena pengalaman pahit yang mengerikan. Manusia akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Sudah dapat dipastikan bahwa hal ini merupakan gangguan kejiawaan yang besar. Secara sosial, hidup dengan mengakses terhadap seluruh peristiwa, pengalaman, dan kejadian di masa lalu secara keseluruhan, terutama pengalaman pahit yang mengerikan, akan menjadikan hidup ini terasa sempit. Kita tidak dapat bergaul dengan nyaman, karena terganggu oleh pengalaman buruk yang dapat diingat dengan detil.

Allah tidak menghendaki kesulitan di dalam hidup ini. Oleh karena itu, sengaja Allah menciptakan mekanisme lupa di dalam diri manusia dengan menutup memori itu sehingga tidak dapat diakses seluruhnya. Allah memang al-Sattar (Yang Maha Menutupi) sehingga manusia merasakan keindahan dan kenyamanan di dalam hidup ini. Lupa terhadap seluruh memori merupakan masalah tersendiri, tetapi dapat mengingat sebagian dan luapa terhadap sebagian lain merupakan kenikmatan tersendiri yang sengaja diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia.

Ketiga, Allah sengaja menciptakan suatu ruang di dalam diri manusia untuk merasahasiakan sesuatu kejadian, peristiwa, atau pengalaman di dalam hidup yang tidak pantas diketahui orang lain. Sekiranya Allah tidak menciptakan tempat yang rahasia dan tersembunyi di dalam diri manusia, serta tidak ada ruang yang tertutup, tentu kita kehilangan muka di depan orang banyak. Semua, dosa, noda, kekurangan, kecurangan, keculasan, kelicikan, keburukan, kejahatan, kedengkian, dan berbagai penyakit hati yang tersembunyi di dalam diri kita dapat diketahui orang lain dengan transparan. Allah Sattar al-‘uyub (Dzat Yang Maha Menutupi Aib hamba-hamba-Nya) dari pandangan manusia sehingga semua aib itu menjadi persoalan yang sanagt personal di antara hamba dengan Tuhan. Tidak ada yang mengetahui rahasia yang tersembunyi di dalam hati kecuali diri kita sendiri dengan Allah. Adapun bagi Allah tidak ada satu ruang kecil pun yang tertutup dari pantauan, pengawasan, dan pengetahuan-Nya.

Dengan mengucapkan al-Asma` al-Husna, nama-nama Tuhan yang berjumlah sembilan sepuluh sembilan; memahami maknanya; mendalami kandungan filosofinya; merasakan keindahan asma` Allah, meresapkan pancaran kasih sayang dan kelembutan-Nya, dan menghayati kehadiran dan kedekatan-Nya dengan manusia seperti menghayati sifat al-Rahman dan al-Rahimnya Allah, maka seorang hamba yang beriman akan lebih mengenal eksistensi dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia, dan alam sekitarnya. Ketiga potensi, kekuatan, kemampuan, atau kecerdasan yang terpendam di dalam dirinya, yakni quwwah al-fikriyyah atau kecerdasan intelek (IQ), quwwah al-dzawqiyyah atau kecerdasan emosi (EQ), dan quwwah al-ruhiyyah atau kecerdasan spiritual (SQ) secara garis dapat dikembangkan dan diaktualisasikan secara terus menerus dengan iman, ilmu, dan amal, tetapi secara khusus ketiga kecerdasan tersebut dapat diaktualisasikan dengan senantiasa ddzikir lisan dan ddzikir kalbu secara seksama dan simponi di dalam kehidupan sehari-hari.

Menyadari bahwa perbuatan Allah tercermin di dalam nama-nama-Nya yang indah (al-Asma` al-Husna) seperti al-Rahman dan al-Sattar, menurut hemat penulis, seorang insan yang beriman tentu akan berusaha merealisasikan nilai-nilai edukatif dan nilai-nilai filosofis al-Rahman dan al-Sattar di dalam kehidupan ini. Ia akan memantulan kasih kepada seluruh ummat manusia secara universal, tanpa membeda-bedakan agama, suku bangsa, ideologi, dan status sosial. Demikian juga dengan menghayati Tuhan al-Sattar, seorang hamba yang beriman akan berusaha memanfaatkan kesempatan dan peluang emas kebaikan Allah menutup aib hamba-hamba-Nya dengan bertobat dari berbagai dosa dengan tobat nasuha. Pada waktu yang sama ia pun akan membersihkan berbagai noda dan dosa akibat penyakit hati yang dideritanya dengan tindakan yang terencana, terpadu, dan terprogram dengan baik. Ia pun menyadari bahwa tindakan Tuhan menutupi aib hamba-hamba-Nya sebagaimana dipaparkan di atas ada batasnya. Di dalam Al-Qur`an Allah menyatakan: “Pada hari ketika semua rahasia manusia dibuka dengan seluas-luasnya. Pada hari itu bagi manusia tidak ada kekuatan dan pertolongan (untuk menutupi rahasia yang memalukannya)”. (Q.S. al-Thariq/86: 9-10) Hal ini terjadi pada hari kiamat, apabila ia selama hidup di dunia tidak bertobat dari dosa-dosanya dan tidak membersihakannya dengan sebaik-baiknya.

Ringkasnya, orang-orang beriman yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan memanggil dan menyebut nama Allah melalui wirid al-Asma` al-Husna secara rutin, serta diikuti dengan langkah-langkah berikut akan lebih mengenal dirinya. Pertama, berusaha memahami dan merasapkan filosofi sifat dan perbuatan Allah sebagaimana tercermin di dalam al-Asma` al-Husna. Kedua, melakukan tahapan-tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dengan sebaik-baiknya. Ketiga, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terus menerus mengidentikan diri kita dengan sifat dan karakter Allah dalam kehidupan ini. Keempat, melakukan evaluasi diri secara kritis dengan melakukan otokritik yang tajam serta senantiasa memperbaikinya dengan seksama. Kelima, bersedia mendengar saran, nasihat, dan kritik siapa pun tentang diri kita dengan kejujuran. Keenam, senantiasa meningkatkan komunikasi personal dengan Allah melalui doa dan munajat di tengah malam. Maka insya Allah, siapa pun di antara orang beriman yang melakukan kiat-kiat ini dengan sebaik-baiknya akan lebih terbuka untuk mengenal dirinya sekaligus mengenal Tuhannya. Melalui sifat dan perbuatan Allah sebagaimana tercermin di dalam al-Asma` al-Husna seorang hamba yang beriman dapat mengenal dirinya dan meningkatkan kualitas iman dan amal salehnya kepada sesama umat manusia dengan sifat dan karakter yang lebih mulia. Wa Allah a‘lam bi al-shawab.

---(ooo)---
Dr. Asep Usman Ismail, MA Penulis adalah dosen Ilmu Tasawuf pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pengamal Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, tinggal di Ciputat

Mencari Ilmu

Mencari Ilmu


  1. Ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indahnya. Ia ringan dibawa, namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur.
  2. Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya ia hiasan bagi orang kaya dan penolong bagi orang fakir. Aku tidaklah mengatakan, “Sesung­guhnya ia mencari dengan ilmu,” tetapi “ilmu menyeru kepada qand 'ah (kepuasan).”
  3. Umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal yang baik untuk dipelajari. Akan tetapi, pelajarilah ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan begitulah seterusnya secara berurutan.
  4. Janganlah engkau memperlakukan secara umum orang yang telah memberimu pengetahuan, tetapi perlakukanlah dia seperti orang-­orang yang khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah memiliki orang-­orang yang dititipi-Nya rahasia-rahasia tersembunyi dan melarang mereka menyebarkan rahasia-rahasia-Nya itu. Ingatlah ucapan se­orang laki-laki yang saleh (Khidhr) kepada Musa (a.s.), Musa a.s. sebelumnya berkata kepadanya:“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?
    “Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali­kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?” QS 18:66-68).
  5. Pelajarilah ilmu. Jika kalian tidak memperoleh keberuntungan de­ngannya, maka dicelanya zaman bagi kalian lebih baik daripada ia dicela lantaran kalian.
  6. Ilmu adalah kekuatan. Barangsiapa yang mendapatkannya, dia akan menyerang dengannya; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan­nya, dialah yang akan diserang olehnya.
  7. Ilmu terbagi menjadi dua: yang didapatkan dengan mengikuti ( mathbu ) dan yang didapatkan dengan belajar ( masmu ), dan ilmu yang didapat dengan belajar tidak akan bermanfaat jika ia tidak dilaksanakan ( mathbu ).
  8. Kecintaan terhadap ilmu termasuk kemuliaan cita-cita.
  9. Seluruh wadah akan menyempit dengan apa yang diletakkan di dalamnya, kecuali wadah ilmu, karena sesungguhnya ia akan ber­tambah luas.
  10. Akal tidak akan pernah membahayakan pemiliknya selamanya, se­dangkan ilmu tanpa akal akan membahayakan pemiliknya.
  11. Jika jawaban berdesak-desakan, maka yang benar akan tersembunyi.
  12. Bagian terpenting ilmu adalah kelemahlembutan, sedangkan cacat nya adalah pernyimpangan.
  13. Jika engkau menghendaki ilmu dan kebaikan, maka kibaskanlah (hindarkanlah) dari tanganmu alat kebodohan dan kejahatan. Se­bab, sesungguhnya tukang emas tidak akan memungkinkan bagi nya memulai pekerjaannya kecuali jika dia telah melemparkan alat pertanian dari tangannya.

Mewaspadai Nafsu

Mewaspadai Nafsu

Wahai anak-anak sekalian, bila anda ingin bahagia, maka lawanlah dirimu (nafsumu) dalam rangka berselaras dengan Tuhanmu Azza wa-Jalla, taat kepadaNya, sekaligus dalam rangka kontra terhadap maksiat padaNya.

Hijabmu adalah karena anda tidak mengenal makhluk. Sedangkan makhluk itu adalah hijabmu untuk tidak mengenal Khaliq Azza wa-Jalla. Sepanjang dirimu bersama dirimu, anda tak mengenal makhluk. Sepanjang dirimu bersama makhluk, anda tidak mengenal Tuhanmu Azza wa-Jalla. Sepanjang dirimu dengan dunia, anda kehilangan akhirat. Sepanjang dirimu bersama akhirat anda tidak mengenal Tuhannya akhirat. Raja dan yang dirajai (budak) tidak bisa bergabung, sebagaimana dunia dan akhirat tidak pernah berpadu. Begitu pula makhluk dan Khaliq tidak bisa dicampur.

Nafsu selalu memerintahkan pada keburukan, karena memang demikian watak naluriyahnya. Sampai kapan anda diperintah oleh Qalbu dalam segala hal, dan anda tidak butuh lagi nafsu. Maka perangilah nafsumu.
“Allah mengilhamkan pada nafsu akan pengingkaran dan ketaqwaannya.” (Asy-Syams: 8)

Maka bersihkan nafsu itu dengan perjuangan jiwa. Karena jika nafsu sudah bersih dan sirna, ia akan menentramkan diri pada qalbu, lalu ketentraman qalbu menyandar pada rahasia jiwa (sirr), dan Sirr menuju Al-Haq Allah Azza wa-Jalla, taat padaNya. Jika hal ini tidak berhasil jangan berharap anda akan terbebas dari kotoran dan keburukannya.

Bagaimana bisa dekat, dengan Sang Maha Diraja, tanpa adanya kesucian dari berbagai najis. Karena itu pendekkan imajinasi nafsu itu, maka ia bisa patuh kepadamu. Nasehati melalui nasehat Rasulullah saw.
“Bila pagi hari, jangan bicara pada nafsumu tentang sore hari. Jika sore hari jangan bicara pada nafsumu tentang pagi hari. Karena anda tidak tahu bagaimana nasib namamu besok pagi.” (Ditakhrij oleh Az-Zubaydy dalam Ithafus Saadatil Muttaqin)

Anda merasa kasihan pada nafsumu dibanding yang lain, pada saat yang sama anda telah menelantarkannya. Bagaimana yang lain kasihan padanya dan melindunginya? Kekuatan naluriyah dan ambisi yang membebanimu, membuatmu berat untuk meninggalkan nafsumu. Karena itu berjuanglah memeranginya dengan memperpendek imajinasinya dan meminimalisir ambisinya, mengingat maut, fokus pada Allah Azza wa-Jalla, berobat melalui jiwa para Shiddiqun dan kalamnya, disamping dzikir yang benar-benar jernih dari kotoran, siang dan malam.

Katakan pada nafsumu, “Bagimu keuntungan yang kamu kerjakan, dan resiko atas tindakanmu. Tak satu pun yang menyertai keuntunganmu, juga tidak memberikan sesuatu padamu, karena itu haruslah beramal dan mujahadah. Kawanmu adalah yang mencegahmu, dan musuhmu adalah yang menyesatkanmu. Karena saya melihat dirimu bersyukur pada selain Allah Azza wa-Jalla atas nikmat-nikmatNya. Engkau memberikan haknya nafsu dan makhluk, tapi engkau menggugurkan Haknya Allah Azza wa-Jalla. Padahal anda tahu bahwa ni’mat-ni’mat itu dari Allah Azza wa-Jalla, lalu mana syukurmu? Bahkan anda pun tahu bahwa Allah Ta’ala menciptamu, lalu mana ibadah, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya serta sabar atas cobaanNya.”
Perangi nafsumu hingga engkau dapat hidayah.
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang berjuang melawan dirinya dalam rangka menempuh pada Diri Kami, niscaya akan Kami beri hidayah mereka, jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)

“Apabila kamu memohon pertolongan Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian.” (Muhammad: 7)

Karena itu anda jangan memberi toleransi pada nafsu, jangan patuh dan jangan taat, anda pasti menang dan bahagia. Jangan tersenyum pada wajahnya, jawablah dari seribu kalimatnya, jawaban yang bisa membersihkan dirinya dan menentramkan pada hati. Jika nafsu menuntut syahwat kesenangan dan kelezatan, dan apa jaminan dan akhirnya? Katakan pada nafsu, bahwa tempatmu nanti syurga. Sabarkan nafsumu atas kegagalan yang pahit, hingga Allah memberikan anugerahNya. Jika anda sabar dan bisa menyabarkannya, maka Allah azza wa-Jalla bakal menyertainya.
“Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang sabar.” (Al-Anfaal: 46)
Jangan terima ucapan dan interupsi nafsu, karena ia tidak berkata kecuali menjurus keburukan. Jika anda mulai menyenangi nafsu, segera lawan. Karena melawannya pasti mendatangkan kebaikan.

Wahai orang yang mengaku berserasi dengan kehendak Allah swt, sedangkan dirimu mengikuti hawa nafsumu, engkau dusta dalam pengakuanmu. Nafsu dan Allah Azza wa-Jalla tidak pernah berpadu. Dunia akhirat pun demikian. Siapa saja yang berteguh pada nafsunya, ia telah kehilangan berteguh pada Allah Azza wa-Jalla. Siapa yang wuquf di dunia, ia akan kehilangan wuquf di akhirat. Nabi saw, bersabda:
“Siapa yang mencintai dunianya, akan mencederai akhiratnya. Siapa yang mencintai akhiratnya, dunianya akan tercederai.” (Hr Imam Ahmad)

Sabarlah. Jika sabarmu sempurna, maka ridlomu juga sempurna. Semuanya sangat indah di hadapanmu, apa pun yang terjadi merupakan manifestasi rasa syukurmu, yang jauh jadi dekat, yang syirik berubah tauhid, dan anda tidak peduli dengan ancaman maupun manfaat dari makhluk, tidak memandang kontradiksi, bahkan pintu-pintu menyatu, arah hanya satu. Suatu kondisi yang tidak banyak dijadikan pegangan oleh orang, bahkan hanya individu-individu, dari 1000 orang, hanya satu orang saja yang mampu memutus hawa nafsunya.

Berjuanglah agar mati di sisiNya Azza wa-Jalla. Berjuanglah agar dirimu mati sebelum engkau mati. Hiburlah dengan kesabaran dan perlawanan terhadap dirinya. Dalam waktu dekat kesabarannya akan memujinya. Kesabaran itu dibatasi waktu dunia, sedangkan balasan atas kesabaran tidak pernah sirna. Aku sabar, dan aku melihat dampaknya, sangatlah positif terpuji. Aku mati, kemudian Dia menghidupkan aku, kemudian mematikanku. Aku hilang dari diriku, kemudian Dia menemukanku, lalu menghilangkanku, lalu aku sirna besertaNya, dan maujud denganNya. Aku berjuang untuk tidak memilih dan berkhasrat sampai sukses, hingga takdir membimbingku dan anugerahNya menolongku, tindakanNya menggerakkanku, kecemburuanNya melindungiku, hasratNya memberikan kepatuhanku padaNya, serta kehendakNya yang dahulu mendahului kehendakku, Allah azza wa-Jalla mengangkat derajatku.

Anak-anak sekalian…Anda lari dariku, sedangkan aku gurumu. Jagalah posisimu di hadapanku, jika tidak, anda akan hancur. Hai orang yang menempuh, datanglah dulu kepadaku, baru datang ke Baitullah. Akulah pintu Ka’bah, kemarilah, aku ajari bagaimana haji yang benar, di mana anda bicara dengan Yang Punya Ka’bah.
Anda pun bakal tahu, ketika debu-debu tampak, maka duduklah, dan berpeganglah pada kendali yang ada padaku, karena aku diberi kekuatan oleh Allah Azza wa-Jalla.

Kaum sufi telah memerintahkan kalian atas apa yang diperintah Allah Azza wa-Jalla dan melarang kalian atas apa yang dilarang oleh Allah Azza wa-Jalla. Mereka benar-benar telah memberikan nasehat padamu, dan mereka menyampaikan amanah itu.

Beramalah di negeri hikmah sampai kalian pada negeri Qudrat. Dunia adalah negeri hikmah, dan akhirat adalah negeri Qudrat. Hikmah membutuhkan piranti dan alat, sebab akibat, sedangkan Qudrat tidak butuh semua itu. Allah melakukan semua itu demi membedakan antara Darul Hikmah (dunia) dan Darul Qudrat (akhirat). Akhirat itu bangunan tanpa sebab, yang bicara pada ragamu dan yang melihat amalmu atas kemaksiatan-kemaksiatanmu kepada Allah Azza wa-Jalla.
Di hari kiamat nanti segala tirai tersingkap dan segala tirai yang menutupimu terbuka, terserah anda semua. Tak seorang pun masuk neraka kecuali dengan hati yang beku karena banyaknya tumpukan alasan. Bacalah Kitab dan Sunnahmu dengan fikiranmu, lalu tobatlah dari keburukan dan bersyukurlah atas kebajikan-kebajikan. Batasilah catatan kemaksiatanmu dan timpahkan di lembarannya dengan pukulan taubat.

Anak-anak sekalian…Kalian telah tumbuh di tanganku, jika kalian tidak menerima apa yang aku ucapkan, kalian tidak meraih manfaat dariku. Anda hanya melihat rupa tapi kehilangan makna. Siapapun yang berguru padaku haruslah menerima apa yang aku ucapkan dan mengamalkan. Jika tidak jangan berguru padaku, karena bakal merugi.
Aku telah menyajikan sajian di meja, tak seorang pun mau memakannya! Pintu sudah terbuka tak seorang pun memasukinya. Akh! Apa yang kulakukan padamu? Apa yang kukatakan padamu? Berapa kali aku bicara dan kalian tidak mendengar! Aku hanya demi kalian, bukan demi diriku. Aku tidak takut kalian, tidak berharap kalian, tidak kubedakan antara negeri kemakmuran maupun kerobohan, antara yang hidup dan mati, antara yang kaya dan miskin, antara raja dan budak. Semuanya ada di Tangan Allah azza wa-Jalla.
Ketika cinta dunia keluar dariku, mak aku benar, lalu bagaimana tauhid anda benar sedang di hatimu ada cinta dunia. Tidakkah anda dengar sabda Nabi saw:
“Cinta dunia itu adalah pangkal segala kesalahan.” (Takhrij az-Zubaidy)
Sepanjang anda memulai, membiasakan, mencari, menempuh jalan menuju Allah, maka sepanjang itu pula cinta dunia sebagai pangkal kesalahan. Jika anda telah sampai pada kedekatan dengan Allah swt, anda pun senang dengan bagian seberapa pun di dunia, anda tidak suka jika mendapatkan bagian yang diberikan pada selain dirimu. Rasa cinta itu didasari oleh pengetahuan anda bahwa Allah Azza wa-Jalla telah menakdirkan padamu, dan anda menerima dengan suka cita, sama sekali tidak menerima yang lainnya.

Bagimana anda bisa menoleh ke yang lain sedangkan hati anda ada di hadapanNya Azza wa-Jalla sebagaimana ahli syurga dalam syurganya? Semua yang berjalan pada diri anda adalah dari Allah Azza wa-Jalla Sang Kekasih, karena anda menghendaki melalui kehendakNya, dan memilih melalui pilhanNya, yang beredar melalui KekuasaanNya, sementara seluruh hal selain Allah Azza wa-Jalla putus dari hatimu, maka dunia dan akhirat tunduk padamu, dan yang anda raih adalah bagian dariNya, cintamu bukan pada sesuatu darimu tetapi dariNya.
Orang munafiq yang suka pamer, dan suka kagum pada amalnya sendiri itu, tetap saja puasa siang hari dan tahajud malam hari, makan makanan kasar, berpakaian sahaya, padahal batin dan lahirnya gelap. Tak satupun kakinya melangkah kepada Tuhannya Azza wa-Jalla, dan dia tergolong orang yang bekerjakeras namun penuh kepayahan. Di mata kaum pilihan Shiddiqun dan Washilun rahasia batinnya tampak semuanya. Hari ini mereka bisa dilihat kaum khawash (kalangan khusus ruhani) dan esok di akhirat semuanya akan melihatnya.

Kaum khawash melihatnya dengan hatinya, namun mereka menutupinya dengan Tirai Allah Azza wa-Jalla. Kemunafikan anda semua jangan dibaur dengan kaum sufi, sepanjang anda tidak mau menyingkirkan jiwa munafiqmu. Tak ada nasehat bagimu sepanjang anda tidak memutuskan ikatan kemunafikan itu, sepanjang anda tidak memperbarui Islammu, mewujudkan taubatmu, keluar dari rumah watakmu, hawa nafsumu, wujud eksistensimu dan menarik manfaat serta meninggalkan bahaya darimu.

Sedangkan anda membiarkan hati anda di lorong sempit, membiarkan batinmu dalam pengkhianatan di hadapan Tuhan. Segeralah kembali pada fondasi, lalu membangun. Asasnya adalah faham agama. Faham qalbu bukan faham wacana. Faham dalam qalbu mendekatkan diri anda pada Allah Azza wa-Jalla, sedangkan faham menurut wacana hanya mendekatkan diri anda kepada makhluk dan penguasanya. Faham dalam qalbu membiarkan dirimu berada dalam majlis taqarrub kepada Allah Azza wa-Jalla, mendekatkan langkahmu menuju Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Celaka anda ini. Anda menelantarkan dirimu dalam zaman di mana anda mencari ilmu tapi tidak mengamalkan. Anda pada pijakan kebodohan karena anda berbakti pada musuh-musuh Allah Azza wa-Jalla, musyrik bersama mereka. Padahal Allah Ta’ala tidak butuh dirimu, atas apa yang anda jadikan tuhan selain Dia. Allah tidak mau menerima kemusyrikanmu. Apakah anda ini tidak tahu bahwa anda adalah budak yang dikendalikan olehNya?

Bila anda mau bahagia, tinggalkan kendali di hatimu, demi kendali di Tangan Al-Haq Azza wa-Jalla, bertawakkal padaNya secara total lahir dan batin. Jangan curiga kepadaNya Azza wa-Jalla, karena Dia tidak bisa dicurigai, sebab Dialah yang lebih tahu kemaksiatanmu dibanding anda. Dia Maha Tahu dan anda tidak tahu.

Seharusnya anda diam di hadapanNya, bersembunyi dan bersunyi diri hingga datang kepadamu izin dariNya untuk bicara. Maka anda pun bicara bersamaNya, bukan bersama diri anda. Ucapanmu menjadi obat bagi hati yang lara, dan obat bagi rahasia batin, sekaligus pencerah bagi akal.

“Ya Allah cahayailah hati kami, tunjukkan padaMu, dan bersihkan rahasia batinku, dan dekatkanlah padaMu.
Ya Tuhan berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah.